— Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menyita perhatian publik setelah menghabiskan lebih dari sepuluh jam mengunggah puluhan gambar hasil rekaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di platform Truth Social. Dalam rentetan unggahan tersebut, Trump menyampaikan sejumlah klaim tanpa bukti, termasuk pernyataan bahwa ia telah menghasilkan ratusan miliar dolar bagi pasar saham dan aset AS.

Salah satu gambar rekaan kecerdasan buatan menampilkan Trump duduk di hadapan beberapa layar pemantau pasar saham di Gedung Putih. Dalam keterangan foto tersebut, ia menyatakan langkah itu dilakukan demi negara dan mengkritik kelompok politik oposisi. Namun, unggahan tersebut tidak menyertakan bukti pendukung.

Sorotan terhadap aktivitas media sosial Trump juga berkaitan dengan fitur Truth API berbiaya seratus ribu dolar per bulan. Fitur ini memberikan akses awal terhadap pengumuman kebijakan yang berpotensi menggerakkan pasar keuangan. Sejumlah senator AS telah mendesak Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) untuk menyelidiki dugaan pelanggaran hukum sekuritas oleh perusahaan induk platform tersebut.

Retorika Perang dan Konten Visual

Penggunaan konten rekaan AI oleh Trump berlangsung di tengah konflik militer antara AS dan Iran yang telah berjalan lebih dari enam bulan.

Unggahan tersebut mencakup gambaran kehancuran wilayah Iran, ilustrasi ledakan di kawasan industri minyak Pulau Kharg, hingga grafik kondisi ekonomi Iran yang tidak disertai sumber terverifikasi.

Meski perekonomian Iran mengalami kontraksi dan lonjakan inflasi selama perang, sejumlah pakar mengimbau publik untuk tidak berspekulasi negara tersebut berada di ambang keruntuhan ekonomi secara mendadak.

Rangkaian gambar tersebut juga menampilkan citra Trump sebagai pahlawan, pemimpin komando pasukan antariksa, hingga figur pegulat yang diselimuti bendera AS. Selain itu, beberapa unggahan menggambarkan klaim kedaulatan baru, seperti penyebutan Selat Hormuz sebagai wilayah baru AS, pengubahan nama New Mexico, hingga ilustrasi Bulan dengan klaim kepemilikan oleh AS.

Trump sebelumnya menandatangani perintah eksekutif untuk mengubah nama Danau Ontario (Lake Ontario) menjadi Danau Amerika. Perintah tersebut mendapat penolakan dari Perdana Menteri (PM) Kanada Mark Carney yang menegaskan bahwa negaranya akan tetap menggunakan nama Danau Ontario.

Pihak Gedung Putih belum memberikan keterangan resmi mengenai rangkaian unggahan tersebut.

Penggunaan media sosial dan media rekaan buatan sebagai sarana komunikasi politik merupakan bagian dari strategi Donald Trump dalam membentuk citra diri serta menjaga dukungan publik. Pembentukan narasi melalui visualisasi ketersampaian pesan telah menjadi instrumen utama dalam pola komunikasinya.

Namun, pengunggahan konten visual berskala masif di tengah kecamuk konflik geopolitik antara AS dan Iran menandai dinamika baru dalam pemanfaatan teknologi digital oleh pemimpin negara. Integrasi antara retorika politik, klaim ekonomi, serta fitur komersial berbayar seperti Truth API menimbulkan perhatian di kalangan pengamat hukum dan pasar keuangan terkait batas antara diplomasi publik, pembentukan opini, dan pengaruh terhadap pasar global.