— JAKARTA – Gunung Pickaxe menjadi sorotan utama dalam kekhawatiran Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terkait dugaan fasilitas nuklir bawah tanah di Iran. Kekhawatiran ini muncul di tengah ketegangan geopolitik yang berlanjut.

Sebelumnya, Trump sempat mengkritik Netanyahu karena membahas isu dugaan fasilitas nuklir Iran tersebut ke publik. “Saya mendengar Bibi (nama panggilan Netanyahu) mengumumkannya. Saya berkata, ‘Mengapa Anda tidak menyampaikannya secara langsung kepada saya? Mengapa Anda harus mengumumkannya kepada dunia?'” ujar Trump, seperti dikutip dari Anadolu Agency.

Gunung Pickaxe berlokasi sekitar 220 kilometer di selatan Teheran, dan hanya berjarak 2 kilometer dari fasilitas nuklir Natanz. Situs Natanz sendiri diketahui merupakan lokasi dua pabrik pengayaan uranium Iran. Fasilitas Natanz sebelumnya pernah menjadi sasaran serangan bom, termasuk saat perang yang dimulai oleh AS dan Israel pada Februari 2025 dan perang 12 hari pada tahun yang sama.

Informasi mengenai kompleks yang berada di dalam Gunung Pickaxe masih terbatas. Namun, para ahli memperkirakan bahwa kompleks tersebut sedang dalam tahap pembangunan dan diperkirakan terkubur hampir 100 meter di dalam gunung.

Sejarah Pembangunan Fasilitas di Gunung Pickaxe

Menurut Institute for Science and International Security (ISIS), sebuah lembaga think tank yang berfokus pada isu non-proliferasi nuklir, pembangunan fasilitas di Gunung Pickaxe dimulai pada tahun 2020. Hal ini berawal dari laporan otoritas Iran mengenai adanya ledakan akibat tindakan sabotase di fasilitas Natanz.

Pada saat itu, Iran menyatakan bahwa sabotase di Natanz menyebabkan kerusakan yang cukup signifikan. Kemudian, pada September 2020, Kepala Organisasi Energi Atom Iran kala itu, Ali Akbar Salehi, mengonfirmasi bahwa negaranya telah memulai pembangunan “aula modern, lebih besar, dan lebih komprehensif dalam semua dimensi di jantung gunung dekat Natanz”.

Tujuan utama pembangunan ini adalah untuk memproduksi sentrifugal canggih, mesin yang memutar uranium dengan kecepatan tinggi untuk memperkaya uranium dan menghasilkan bahan bakar nuklir.

Rafael Grossi, Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA), pada bulan Maret menyatakan bahwa Iran sebelumnya telah mengumumkan niatnya untuk melakukan aktivitas nuklir di Gunung Pickaxe. “Ini adalah bagian dari niat mereka yang cukup sistematis untuk menempatkan fasilitas mereka yang paling sensitif di bawah tanah,” ujarnya.

Analisis Situs dan Fungsi Gunung Pickaxe

Lembaga kajian ISIS telah menganalisis citra satelit situs tersebut dan melaporkan adanya dua pasang pintu masuk serta tembok keamanan di sekeliling fasilitas yang baru selesai dibangun.

Sejak serangan AS dan Israel dilancarkan, salah satu pasang pintu masuk terowongan timur telah diperkuat dan sebagian diurug untuk menghalangi akses kendaraan darat, meskipun belum sepenuhnya tertutup. Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa peningkatan kekuatan pintu masuk terowongan akan mempersulit penargetan menggunakan amunisi penetrasi seperti penghancur bunker.

Lembaga think tank ISIS berpendapat bahwa fasilitas tersebut belum beroperasi, meskipun konstruksi terus berlanjut. Masih belum jelas kapan fasilitas tersebut akan siap beroperasi atau apakah Iran masih berencana memasang fasilitas perakitan skala besar di sana.

“Meskipun demikian, jika Iran mulai membangun kembali kemampuan manufaktur sentrifugal­nya, mereka dapat berencana untuk memasang fasilitas perakitan sentrifugal yang lebih kecil di Gunung Pickaxe yang mampu melayani program senjata nuklir,” terang laporan ISIS.

Tanggapan Iran

Di sisi lain, Iran membantah keras tuduhan Amerika Serikat dan Israel mengenai penyimpanan fasilitas pengayaan uranium untuk senjata nuklir di bawah Gunung Pickaxe. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan bahwa tidak ada aktivitas nuklir di lokasi tersebut.

“Fokus obsesif Washington pada Kolang Kouh (Pickaxe), tempat yang tidak ada aktivitas nuklir, hanyalah dalih yang dibuat-buat untuk agresi, penghancuran, dan sabotase,” tulis Baghaei di akun X.

Ia menegaskan bahwa Iran telah mendeklarasikan seluruh aktivitas nuklirnya kepada IAEA sesuai dengan kewajiban pengamanannya. Baghaei juga menuduh Washington telah melanggar hukum internasional dengan menyerang dan mengancam fasilitas nuklir Iran.