— BEIRUT – Sedikitnya 11 orang tewas dalam serangan udara Israel di wilayah Lebanon Selatan pada Senin (7/9/2026). Di antara korban tewas adalah dua anak-anak dan dua tenaga medis, setelah sebuah rudal menghantam bangunan pemukiman di kota Deir al-Zahrani. Insiden ini memperparah eskalasi konflik yang tengah memanas di kawasan Timur Tengah.

Lebanon kini menjadi front sekunder yang krusial dalam perang meluas antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Israel, sebagai sekutu utama AS, terus menggempur posisi Hizbullah, kekuatan militer pendukung Iran yang berpengaruh di kawasan tersebut. Serangan terbaru ini melanjutkan aksi militer Israel yang telah menyasar kawasan pemukiman sejak akhir pekan lalu dan menguji kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi AS pada Juni 2026, yang belum berhasil menghentikan bentrokan secara penuh.

Militer Israel mengonfirmasi telah mengeluarkan perintah evakuasi singkat sebelum melancarkan serangan. Juru bicara militer Israel mendesak warga Deir al-Zahrani untuk menjauh minimal 300 meter dari lokasi sasaran, dengan klaim bangunan tersebut berada di dekat fasilitas Hizbullah. Israel menuduh Hizbullah melanggar kesepakatan gencatan senjata melalui peluncuran drone peledak ke arah pasukannya.

Presiden Lebanon Joseph Aoun mengecam keras rentetan serangan tersebut sebagai eskalasi berbahaya. Ia mendesak pemerintah AS dan komunitas internasional untuk segera turun tangan menghentikan pelanggaran tersebut serta menuntut pertanggungjawaban Israel atas jatuhnya korban jiwa.

Kebuntuan Diplomatik dan Peringatan untuk Korea Selatan

Perang antara AS dan Iran telah memasuki bulan ketujuh tanpa menunjukkan tanda-tanda kedua pihak kembali ke meja perundingan. Pemerintah AS terus meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran, sementara konfrontasi militer di lapangan semakin intensif. Kesepakatan gencatan senjata sementara pada Juni 2026 telah runtuh, dan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz masih jauh di bawah tingkat normal.

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, menyatakan pihaknya akan segera mengumumkan “zona terbatas” yang membentang dari garis blokade angkatan laut AS hingga ke Teluk Persia. Iran juga berencana mengoperasikan koridor pelayaran internasional baru di Selat Hormuz bekerja sama dengan Oman, serta mengancam akan memasukkan setiap kapal yang melanggar zona tersebut ke dalam daftar sanksi.

Di sisi lain, Menteri Energi AS Chris Wright mengisyaratkan kesepakatan nuklir dengan Iran mungkin tidak lagi dapat dicapai melalui jalur negosiasi, melainkan dengan menghancurkan langsung kapasitas nuklir negara tersebut.

Konflik ini juga mulai menyeret keterlibatan negara luar. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei memberikan peringatan keras kepada Korea Selatan agar tidak terlibat secara militer atau mendukung aksi AS di Selat Hormuz. Otoritas Iran menegaskan kehadiran militer asing di kawasan Teluk Persia akan dianggap sebagai bentuk dukungan langsung terhadap agresi AS yang akan mendatangkan konsekuensi serius.

Rangkaian serangan di Lebanon Selatan merupakan kelanjutan dari meluasnya perang regional yang bermula dari konfrontasi langsung antara AS dan Iran. Lebanon secara resmi terseret ke dalam pusaran konflik ini ketika kelompok Hizbullah terlibat aktif dalam pertempuran, yang kemudian memicu invasi darat dan serangan udara masif dari pihak Israel. Rangkaian pertempuran ini diperkirakan telah menelan ribuan korban jiwa dan melukai puluhan ribu warga sipil sejak awal Maret 2026.

Kegagalan mempertahankan kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi AS pada Juni 2026 mempertegas rumitnya penyelesaian diplomasi di kawasan tersebut. Posisi Selat Hormuz sebagai salah satu jalur penyokong pasokan energi dunia kini berada dalam ancaman serius akibat penetapan zona terbatas dan ancaman blokade. Eskalasi ini tidak hanya mengancam stabilitas politik di Timur Tengah, tetapi juga berpotensi memicu krisis energi global serta menyeret keterlibatan kekuatan militer internasional yang lebih luas.