— Harga emas dunia kini berada di titik krusial, menghadapi potensi penurunan ke level US$ 4.000 per ons troi atau justru melesat hingga menguji US$ 4.700 per ons troi. Arah pergerakan harga komoditas ini akan sangat dipengaruhi oleh rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) dan keputusan suku bunga The Fed yang dijadwalkan pekan depan.

Pada penutupan Rabu (9/9/2026), harga emas spot mencatatkan kenaikan 1,07% menjadi US$ 4.402 per ons troi. Namun, pada saat berita ini ditulis, harga emas dunia terpantau melemah 0,17% ke level US$ 4.395,22 per ons troi.

Senior Strategist FOREX.com, James Stanley, menjelaskan bahwa peningkatan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed telah memberikan tekanan pada harga emas. Data Producer Price Index (PPI) dan Consumer Price Index (CPI) AS yang akan dirilis dalam pekan ini menjadi sorotan utama sebelum pengumuman kebijakan suku bunga The Fed.

Menurut Stanley, kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin oleh The Fed akan menciptakan lingkungan fundamental yang kurang menguntungkan bagi emas. Suku bunga AS yang lebih tinggi cenderung menarik aliran modal menjauh dari aset yang tidak memberikan imbal hasil tetap, seperti emas.

Namun, Stanley menekankan bahwa fundamental pasar tidak selalu sejalan dengan pergerakan harga. Oleh karena itu, respons pasar emas terhadap data ekonomi dan keputusan The Fed menjadi indikator yang paling penting untuk dicermati. “Ujian sebenarnya dari sebuah tren adalah apa yang terjadi ketika kondisi berubah. Di situlah peluang pullback dapat muncul,” ujar Stanley dalam analisisnya, Kamis (10/9/2026).

Saat ini, level US$ 4.300 per ons troi masih menunjukkan kekuatan sebagai area support bagi harga emas. Akan tetapi, jika data inflasi AS tetap tinggi dan The Fed memutuskan untuk menaikkan suku bunga, tekanan terhadap emas berpotensi meningkat lebih lanjut.

Dalam skenario tersebut, koreksi yang lebih dalam bisa terjadi. Meski demikian, Stanley melihat potensi penguatan justru dapat muncul apabila koreksi tersebut tidak menghasilkan level terendah baru. Jika level US$ 4.300 ditembus, perhatian pasar akan beralih ke level US$ 4.200 dan US$ 4.100. Level US$ 4.000 kembali menjadi area penting yang berpotensi menjadi zona akumulasi bagi para pembeli.

Peluang Menguat Terbuka Lebar

Stanley mencontohkan pengalaman serupa di masa lalu. Ketika ekspektasi kenaikan suku bunga meningkat pasca komentar dari Ketua The Fed, Kevin Warsh, dolar AS sempat menguat dan menekan emas hingga menguji level US$ 4.000. Namun, level tersebut berhasil bertahan selama kurang lebih satu bulan.

Setelah pertemuan The Fed berikutnya pada bulan Juli, emas berhasil mencatatkan reli lebih dari 17,5% dalam beberapa pekan. Stanley menyoroti bahwa salah satu faktor terpenting dari pergerakan tersebut adalah kemunculan pembeli ketika harga emas menguji area di bawah US$ 4.000, yang mengindikasikan adanya minat akumulasi meskipun fundamental pasar saat itu tidak mendukung emas.

Di sisi lain, peluang emas untuk kembali menguat belum sepenuhnya tertutup. Stanley mengidentifikasi level US$ 4.500 sebagai resistensi krusial yang perlu ditembus untuk mengembalikan dominasi kepada para pembeli. Jika emas mampu menembus level US$ 4.500, harga berpotensi melanjutkan kenaikan untuk menguji US$ 4.600 dan kemudian US$ 4.700, sebelum membuka peluang untuk mencetak rekor tertinggi baru.

“Jika skenario koreksi tidak terjadi, perhatian berikutnya adalah ketika pembeli mampu mendorong harga di atas US$ 4.500,” jelas Stanley.

Secara teknikal, Stanley mengamati bahwa harga emas membentuk pola segitiga simetris setelah mengalami tekanan jual sebelumnya. Pola ini belum memberikan sinyal arah yang tegas karena harga mencatat lower high sekaligus higher low. Namun, mengingat pola tersebut terbentuk pasca aksi jual, Stanley menilai ada kemungkinan pola tersebut berkembang menjadi bear pennant yang cenderung berish.

Kendati demikian, jika tekanan tersebut gagal berlanjut dan emas justru berhasil menembus US$ 4.500, kondisi tersebut dapat menjadi sinyal bahwa pembeli kembali mengambil kendali atas tren yang lebih besar. Stanley berpendapat bahwa skenario penguatan menuju US$ 4.700 kemungkinan memerlukan data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan. Ia mengingatkan bahwa trader tetap perlu mencermati pergerakan harga karena fundamental dan harga tidak selalu bergerak searah. Menurutnya, pergerakan harga pada akhirnya menjadi faktor yang lebih penting bagi trader karena dapat memicu stop-loss maupun margin call.