Jurnal Indonesia — Ketegangan di Timur Tengah dilaporkan meningkat tajam menyusul serangkaian serangan yang melibatkan kelompok Houthi Yaman, militer Amerika Serikat, dan Iran. Kelompok Houthi, yang mendapatkan dukungan dari Iran, melancarkan serangan besar-besaran ke beberapa kota di Arab Saudi. Secara bersamaan, AS dilaporkan menghancurkan lima kapal tanker minyak mentah milik Iran, yang kemudian dibalas Iran dengan menembakkan rudal balistik ke pangkalan militer AS di Yordania.
Serangan Houthi dilaporkan meluas ke empat kota di Arab Saudi bagian selatan, yaitu Khamis Mushait, Abha, Najran, dan Jazan. Serangan ini menggunakan kombinasi pesawat nirawak (drone) dan rudal balistik, yang menyasar pangkalan udara serta fasilitas minyak milik Saudi Aramco. Laporan dari Reuters pada Kamis (10/9/2026) menyebutkan citra satelit NASA menangkap visual kepulan asap hitam tebal di atas kilang Jazan dan asap putih dari pusat distribusi minyak di Abha. Otoritas Arab Saudi mengonfirmasi adanya 73 korban luka, termasuk wanita dan anak-anak, menjadikan serangan ini salah satu yang terbesar menyasar wilayah Saudi dalam konflik yang memuncak.
Tindakan militer AS merupakan respons terhadap serangan rudal balistik yang dilancarkan Garda Revolusi Iran (IRGC) terhadap kapal perang Angkatan Laut AS. Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menyatakan penghancuran lima kapal tanker minyak mentah Iran dilakukan karena kapal-kapal tersebut diduga merupakan bagian dari jaringan tersembunyi yang mendanai kegiatan IRGC dan kelompok-kelompok proksinya di kawasan. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan, “Iran terus berupaya menyerang kapal-kapal AL Amerika Serikat. Setiap kali mereka melakukannya, mereka akan kehilangan kapal tanker.”
Sebagai balasan atas penghancuran kapal tanker minyaknya, IRGC melancarkan serangan rudal balistik ke pangkalan militer AS yang berlokasi di dekat Al Azraq, Yordania. Pihak Yordania mengonfirmasi bahwa sistem pertahanan udara mereka berhasil mencegat 18 dari 20 rudal yang masuk, sementara dua rudal lainnya jatuh di area yang tidak berpenghuni tanpa menimbulkan korban jiwa. IRGC juga mengklaim telah menyerang dua kapal perusak (destroyer) AS dan mengancam akan menargetkan kapal tanker minyak di pelabuhan Kuwait dan Bahrain.
Aksi saling serang ini memberikan dampak langsung pada kestabilan harga energi global. Harga minyak mentah jenis Brent mengalami kenaikan setelah munculnya laporan serangan di Yordania. Meskipun demikian, harga minyak masih bertahan di bawah kisaran US$ 100 per barel, meskipun gangguan pada jalur pasokan terus berlanjut di Selat Hormuz dan Laut Merah.
Eskalasi militer ini merupakan bagian dari siklus konfrontasi yang meningkat antara AS, Israel, dan Iran sejak Februari 2026. Konflik ini telah berkembang menjadi perang ekonomi dan blokade maritim, dengan strategi yang berbeda dari masing-masing pihak. AS berupaya mengamankan jalur pelayaran minyak komersial di Selat Hormuz dan menekan pendapatan Iran melalui pemblokiran ekspor minyak mentah. Sementara itu, Iran mengandalkan jaringan “Poros Perlawanan” (Axis of Resistance), yang meliputi Houthi di Yaman, Hizbullah di Lebanon, Hamas di Palestina, dan milisi Syiah di Irak, untuk menekan sekutu-sekutu AS di Timur Tengah. Gangguan berkala oleh kelompok Houthi di Selat Bab el-Mandeb (Laut Merah) dan wilayah selatan Arab Saudi berpotensi memperburuk krisis energi global di luar jalur utama Selat Hormuz.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.