— Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan pada perdagangan sesi pertama hari ini, Kamis (10/9/2026). Pelemahan ini dipicu oleh berbagai sentimen negatif yang datang berlapis, mulai dari memanasnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, lonjakan harga minyak dunia, kekhawatiran akan inflasi yang meningkat, hingga ekspektasi kenaikan suku bunga.

Pada sesi pertama, IHSG tercatat turun 9,68 poin atau 0,14% ke level 6.668. Pergerakan indeks ini sejalan dengan bursa saham di kawasan Asia yang juga turut terbebani oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta kenaikan harga minyak.

Pilarmas Investindo Sekuritas menilai bahwa belum adanya indikasi meredanya konflik antara AS dan Iran menjadi salah satu faktor utama yang menekan pasar. Iran sendiri telah menyatakan kesiapannya untuk menghadapi konflik yang lebih intens, sementara Presiden AS Donald Trump memperkirakan perang tersebut akan berlangsung hingga setelah pemilihan umum sela pada bulan November.

Situasi ini, menurut Pilarmas, semakin meningkatkan kekhawatiran akan potensi gangguan terhadap aliran energi melalui Selat Hormuz. “Kenaikan harga minyak kemudian berpotensi mendorong inflasi karena meningkatnya biaya energi dan produksi, sehingga memperkuat ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga,” tulis Pilarmas dalam risetnya pada Kamis (10/9/2026).

Fokus Inflasi AS dan Kebijakan The Fed

Di samping itu, Pilarmas menambahkan bahwa pelaku pasar cenderung mengambil sikap wait and see menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat. Data ini menjadi salah satu indikator penting yang akan memengaruhi arah kebijakan Federal Reserve (The Fed).

Berdasarkan data CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin berada di kisaran 60,2%. “Pasar juga mencermati data Producer Price Index (PPI) dan Consumer Price Index (CPI) AS yang dapat memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan moneter selanjutnya,” jelas Pilarmas.

Pada sesi I hari ini, saham-saham yang mencatat kenaikan terbesar meliputi MGNA, GSMF, KPIG, JECC, dan SAPX. Sementara itu, saham-saham dengan penurunan terbesar adalah POLA, DUTI, BKDP, PPRO, dan TFCO.

Di tengah tekanan pasar yang terjadi, Pilarmas merekomendasikan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) dengan rekomendasi beli. “Dengan level support dan resistance SMGR pada rentang 1.675-1.995,” tutup Pilarmas.