Jurnal Indonesia — JAKARTA – Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kembali menjadi sorotan setelah ditutup melemah 1,15% ke level Rp 6.450 pada akhir sesi I perdagangan Kamis, 10 September 2026. Nilai transaksi saham emiten perbankan ini tercatat menjadi salah satu yang terbesar di sesi I hari ini, mencapai Rp 705,42 miliar.
Melemahnya saham BCA disebabkan oleh tekanan jual yang cukup signifikan. Berdasarkan data dari aplikasi Stockbit Sekuritas, saham BBCA membukukan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp 223,4 miliar, jumlah tertinggi dibandingkan saham lain yang mengalami net sell pada hari yang sama.
Kondisi ini melanjutkan tren negatif saham BBCA yang pada perdagangan Rabu, 9 September 2026, juga mencatatkan net sell investor asing sebesar Rp 638,62 miliar. Akibatnya, harga saham BCA ditutup anjlok 2,25% ke level Rp 6.525. Sebanyak 193,38 juta saham diperdagangkan dengan frekuensi 33.227 kali, menghasilkan nilai transaksi total Rp 1,27 triliun.
Perdagangan saham BBCA pada Selasa, 8 September 2026, menunjukkan gambaran yang berbeda. Saham berkode BBCA mencatatkan pembelian bersih (net buy) asing sebesar Rp 269,69 miliar, yang turut mendorong penguatan harga sahamnya sebesar 0,75%.
Pergerakan saham Bank Central Asia sejalan dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang melemah 0,12% ke level 6.678 pada hari Rabu. Pilarmas Investindo Sekuritas menilai pelaku pasar domestik masih bersikap hati-hati menjelang rilis data penjualan ritel Juli. Hal ini menyusul data penjualan ritel Juni yang telah mencatat penurunan selama tiga bulan berturut-turut.
Meskipun ada pelemahan dalam jangka pendek, KB Valbury Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli untuk saham BBCA. Perusahaan sekuritas ini menetapkan target harga saham BBCA di angka Rp 9.480.
Target harga tersebut mencerminkan valuasi price to book (P/B) sebesar 3,8 kali untuk proyeksi tahun 2026. Saat ini, saham BBCA diperdagangkan pada estimasi valuasi P/B 2026 sebesar 2,6 kali. KB Valbury melihat bahwa kondisi valuasi saat ini membuka peluang terjadinya re-rating atau penilaian ulang valuasi saham, terutama jika katalis positif mulai terealisasi.
Beberapa katalis positif yang dapat mendukung saham BBCA menurut KB Valbury meliputi pertumbuhan kredit dan imbal hasil kredit yang lebih tinggi dari perkiraan, yang berpotensi memperkuat Net Interest Margin (NIM). Selain itu, penurunan cost of credit (CoC) yang lebih rendah dari perkiraan, didukung oleh pembentukan pencadangan yang terbatas dan kualitas aset yang terus membaik, juga menjadi faktor pendukung.
Perbaikan sentimen pasar domestik dan global juga dipertimbangkan sebagai katalis penting bagi saham BBCA. Namun, KB Valbury juga mencatat sejumlah risiko yang perlu diwaspadai. Risiko tersebut antara lain jika pertumbuhan kredit dan penyesuaian imbal hasil kredit lebih rendah dari perkiraan.
Biaya pendanaan serta CoC yang lebih tinggi dari estimasi juga berpotensi menekan kinerja BCA. Penurunan NIM yang lebih dalam dari perkiraan menjadi faktor risiko lainnya. KB Valbury juga menyoroti potensi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sebagai salah satu risiko yang dapat memengaruhi proyeksi kinerja BCA (BBCA).
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.