— Harga emas dunia kini berada di zona kritis, menutup pekan lalu dengan pelemahan sekitar 2,5% dan tertahan tipis di atas level psikologis US$ 4.000 per ons troi. Analis menilai pekan depan akan menjadi penentu bagi logam mulia ini untuk mempertahankan posisinya di tengah bayang-bayang inflasi yang meningkat dan ekspektasi kenaikan suku bunga oleh The Fed.

Harga emas spot sempat ditutup menguat 1,12% ke level US$ 4.017,6 per ons troi. Namun, dalam empat pekan terakhir, harga emas tercatat beberapa kali menembus batas US$ 4.000.

Presiden World Markets EverBank, Chris Gaffney, menekankan bahwa level US$ 4.000 per ons troi adalah batas psikologis vital bagi investor. “Jika emas menembus level US$ 4.000 per ons troi dan terus melemah, pasar bisa memasuki fase koreksi jangka pendek yang lebih dalam,” ujarnya.

Menurut Gaffney, arah pergerakan harga emas sangat dipengaruhi oleh perkembangan inflasi di Amerika Serikat. Jika kenaikan harga minyak tidak semakin meluas, inflasi diprediksi akan terus menurun. Hal ini dapat mengurangi peluang kenaikan suku bunga The Fed, sekaligus memberikan ruang bagi emas untuk bangkit.

Namun, situasi geopolitik yang kembali memanas, terutama konflik AS-Iran yang mendorong harga minyak menembus US$ 80 per barel, meningkatkan kekhawatiran akan kembalinya tekanan inflasi. Situasi ini berpotensi memaksa The Fed mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama.

Analis teknikal GivTrade, Waleed Said, menambahkan bahwa emas masih menghadapi tekanan dari penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil obligasi, dan berkurangnya ekspektasi pemangkasan suku bunga. “Sebagian besar sentimen negatif memang sudah tercermin pada harga emas, tetapi pasar belum sepenuhnya memperhitungkan risiko inflasi yang berkepanjangan atau kebijakan moneter yang lebih ketat dari The Fed,” katanya.

Meskipun demikian, Said berpendapat bahwa pelemahan saat ini masih merupakan fase koreksi, bukan indikasi perubahan tren jangka panjang.

Level Kritis Bagi Emas

Head of Metals Britannia Global Markets, Neil Welsh, menyatakan bahwa pergerakan harga emas saat ini sangat bergantung pada fluktuasi harga energi. Kenaikan harga minyak yang terus berlanjut dapat memaksa The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, yang pada gilirannya akan membebani harga emas.

Sementara itu, Senior Market Analyst FXTM, Lukman Otunuga, menilai peluang kenaikan harga emas dalam jangka pendek masih terbatas. Ia menyoroti penutupan kembali Selat Hormuz yang memicu kekhawatiran pasokan energi global, mendorong penguatan dolar AS, dan kenaikan imbal hasil obligasi.

Pelaku pasar saat ini memperkirakan peluang sekitar 56% bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga pada bulan September. “US$ 4.000 per ons troi menjadi garis pertahanan utama. Jika level itu ditembus, emas berpotensi turun menuju US$ 3.950 per ons troi hingga US$ 3.900 per ons troi. Namun jika mampu bertahan, harga berpeluang kembali menguji US$4.100,” ujar Otunuga.

Di sisi lain, Head of Business Development XS.com, Simon-Peter Massabni, berpendapat bahwa sebagian besar sentimen negatif telah tercermin pada harga emas. Ia melihat pembelian emas oleh bank sentral, ketidakpastian geopolitik yang tinggi, dan kebutuhan lindung nilai terhadap inflasi tetap menjadi penopang prospek jangka panjang logam mulia ini.

Massabni memperkirakan area US$ 3.950–3.940 per ons troi akan menjadi zona dukungan kuat apabila tekanan jual kembali meningkat.

Fokus Pekan Depan

Pekan depan, pelaku pasar diperkirakan akan lebih cermat mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah, mengingat minimnya agenda data ekonomi penting dari AS. Fokus utama akan tertuju pada rapat kebijakan moneter Bank Sentral Eropa (ECB) pada Kamis (23/7). ECB diprediksi akan mempertahankan suku bunga, namun tetap membuka kemungkinan kenaikan suku bunga pada September jika tekanan inflasi belum mereda.

Selain itu, pasar juga akan mencermati data klaim pengangguran mingguan AS, indeks awal aktivitas bisnis (Flash PMI), serta data penjualan rumah baru. Data-data ini berpotensi memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter bank sentral AS selanjutnya.