Jurnal Indonesia — Harga emas batangan diprediksi masih memiliki peluang untuk menguat dalam sepekan ke depan. Proyeksi ini didorong oleh ketidakpastian geopolitik yang masih berlangsung dan ekspektasi adanya perubahan arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS).
Pengamat pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan harga logam mulia akan bergerak dalam rentang Rp 2.550.000 hingga Rp 2.820.000 per gram pada pekan ini. Perkiraan ini sejalan dengan proyeksi harga emas dunia yang diperkirakan berada di antara 4.151 dollar AS sebagai level support hingga 4.493 dollar AS sebagai level resistance per troy ons.
“Dalam sepekan kemungkinan besar logam mulia itu akan ditransaksikan di Rp 2.550.000 per gram, kemudian resistennya di Rp 2.820.000 per gram,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (9/8/2026).
Untuk perdagangan awal pekan ini, Senin (10/8/2026), harga emas dunia diprediksi berada pada kisaran support 4.279 dollar AS hingga resistance 4.405 dollar AS per troy ons. Sementara itu, harga logam mulia diperkirakan bergerak di rentang support Rp 2.670.000 hingga resistance Rp 2.710.000 per gram.
Ibrahim menambahkan, penguatan mata uang rupiah meskipun terjadi, dampaknya terhadap kenaikan harga logam mulia akan sedikit terbatas. Faktor utama yang masih menopang harga emas adalah perkembangan geopolitik, terutama situasi di Timur Tengah.
Pasar saat ini masih mencermati kemungkinan tercapainya kesepakatan antara Iran dan Oman terkait pengendalian lalu lintas di Selat Hormuz. Ketegangan masih terjadi setelah Iran melakukan serangan terhadap sejumlah kapal Uni Emirat Arab (UEA) yang melintas di kawasan tersebut.
Ibrahim menilai perkembangan tersebut belum mendorong kenaikan harga minyak secara signifikan. Kondisi ini justru dapat membuat investor mengalihkan dana dari instrumen berbasis dollar AS dan minyak mentah ke emas yang dipandang sebagai aset lindung nilai atau safe haven.
“Ada harapan terjadinya penurunan harga minyak akibat perdamaian di Timur Tengah, ini akan membuat investor secara global akan mengalihkan dananya dari dollar dan minyak mentah ke emas sebagai safe haven,” kata dia.
Selain Timur Tengah, konflik Rusia dan Ukraina juga masih menjadi perhatian pasar. Rusia terus melancarkan serangan menggunakan rudal jarak jauh terhadap Kyiv, Ukraina.
Pergerakan harga minyak mentah juga akan menjadi perhatian pasar karena berkaitan dengan prospek inflasi AS. Ibrahim memperkirakan harga minyak mentah dalam sepekan ke depan bergerak pada kisaran 65,70 dollar AS hingga 83,30 dollar AS per barrel. Sementara indeks dollar AS diperkirakan berada pada kisaran support 98,90 hingga resistance 100,50.
Menurut Ibrahim, penurunan harga minyak akibat meredanya ketegangan di Timur Tengah dapat membantu menekan inflasi AS. Jika harga energi terus turun, kondisi tersebut dapat membuat investor mengalihkan portofolionya ke emas.
“Kalau harga emas, harga minyak terus mengalami penurunan di bawah 60 dollar AS, ini pun juga akan membuat inflasi di Amerika akan kembali mengalami penurunan,” ujar Ibrahim.
Dari sisi kebijakan moneter, Ibrahim menilai data ketenagakerjaan AS turut menjadi perhatian pasar. Penambahan tenaga kerja AS pada Juli hanya sekitar 23.000, jauh di bawah ekspektasi sekitar 85.000. Kondisi itu meningkatkan perhatian pasar terhadap kemungkinan perubahan kebijakan Federal Reserve (The Fed), meskipun Ibrahim memperkirakan bank sentral AS masih akan mempertahankan suku bunga pada September.
“Data tenaga kerja di Amerika ini tidak sesuai dengan ekspektasi, turun hanya 23.000 di bulan Juli,” ucapnya.
Menurut Ibrahim, jika harga minyak terus turun dan inflasi AS ikut melandai, peluang perubahan kebijakan moneter The Fed akan semakin terbuka. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memberikan sentimen positif bagi emas.
Lebih jauh, Ibrahim melihat adanya peluang harga emas dunia mencapai level 5.000 dollar AS per troy ons pada kuartal III 2026 jika kesepakatan terkait pengendalian Selat Hormuz dapat tercapai dan konflik tidak kembali mengganggu jalur perdagangan minyak. “Kalau level 5.000 dollar AS per troy ons tercapai di kuartal ketiga, kemungkinan besar untuk logam mulia pun juga akan di atas Rp 3 juta,” pungkasnya.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.