Jurnal Indonesia — Harga emas dunia tercatat menguat 1% pada perdagangan Rabu (9/9/2026), didukung oleh pelemahan nilai tukar dolar Amerika Serikat. Investor kini memusatkan perhatian pada data inflasi AS yang akan menjadi indikator penting bagi kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Harga emas spot ditutup naik 1,07% menjadi US$ 4.402 per ons troi. Sementara itu, harga emas berjangka AS untuk pengiriman Desember mengalami kenaikan tipis 0,19% dan berakhir pada US$ 4.447,25 per ons troi.
David Meger, Direktur Perdagangan Logam di High Ridge Futures, menyatakan bahwa dolar AS yang cenderung tertekan belakangan ini memberikan sentimen positif bagi pasar emas. “Situasi yang mendukung pasar emas adalah dolar AS berada di bawah tekanan ringan belakangan ini,” ujar Meger seperti dikutip dari Reuters.
Nilai tukar dolar AS saat ini berada di sekitar level terendah dalam dua pekan terakhir. Pelemahan dolar membuat emas yang dihargai dalam dolar menjadi lebih terjangkau bagi pembeli dari negara lain.
Selain itu, pasar juga menyoroti kenaikan tajam harga minyak dunia yang telah menembus US$ 100 per barel, dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Rhona O’Connell, Kepala Analisis Pasar di StoneX, menjelaskan bahwa lonjakan harga minyak ini berpotensi menimbulkan dampak inflasi, terutama karena adanya gangguan pada sektor pengiriman dan rantai pasok.
“Namun, alasan kenaikan harga tersebut, yakni gangguan pengiriman dan rantai pasok, mendorong kenaikan imbal hasil obligasi karena kebijakan moneter secara keseluruhan lebih berfokus pada pengendalian inflasi,” kata O’Connell.
Inflasi Menjadi Kunci Pergerakan Emas
Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS dengan tenor 10 tahun sempat menyentuh level tertinggi sejak November 2023 sebelum akhirnya mengalami penurunan. Pergerakan yield obligasi menjadi perhatian investor karena memengaruhi daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil.
Saat ini, pasar menanti rilis data Producer Price Index (PPI) AS yang dijadwalkan pada Kamis (10/9/2026), diikuti oleh data inflasi konsumen atau Consumer Price Index (CPI) pada Jumat (11/9/2026).
Kedua data tersebut diperkirakan akan memberikan gambaran mengenai tekanan inflasi di AS dan mengindikasikan arah kebijakan The Fed dalam pertemuan kebijakan moneternya pekan depan.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar memperkirakan probabilitas sekitar 60% The Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuan kebijakan berikutnya.
Kenaikan suku bunga secara umum dapat menekan harga emas karena meningkatkan biaya peluang untuk memegang aset yang tidak menghasilkan imbal hasil. Sebaliknya, ekspektasi pelonggaran moneter dan pelemahan dolar AS cenderung memberikan dukungan terhadap harga emas.
Sementara itu, logam mulia lainnya juga mencatatkan penguatan. Harga perak spot melonjak 2,32% menjadi US$ 67,28 per ons. Platinum mengalami kenaikan signifikan sebesar 4,45% menjadi US$ 1.900,3 per ons, sedangkan palladium menguat tipis 0,23% menjadi US$ 1.356,72 per ons.
World Platinum Investment Council memprediksi pasar platinum global akan mengalami surplus tahun ini, yang pertama kali terjadi sejak 2022. Kondisi ini dipengaruhi terutama oleh penurunan permintaan dari sektor investasi dan perhiasan.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.