— Analis komoditas dan mata uang di UBS menilai emas mempertahankan peran strategisnya sebagai aset investasi, meskipun menghadapi tren penurunan harga dan kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Bank asal Swiss ini meyakini minat terhadap emas dapat menguat seiring meningkatnya kekhawatiran fiskal, inflasi tinggi, dan ketidakpastian geopolitik.

Menurut catatan Chief Investment Office di UBS, yang dikutip dari Kitco News pada Kamis (10/9/2026), emas memang mengalami tekanan dalam dua pekan terakhir. Hal ini dipicu oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS, komentar hawkish dari Ketua Federal Reserve Kevin Warsh, serta data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan.

“Tekanan akibat imbal hasil riil yang lebih tinggi dan dolar AS yang kuat kemungkinan akan terus menjadi hambatan jangka pendek bagi emas. Namun, sama halnya dengan pandangan kami bahwa keputusan jangka pendek The Fed tidak melemahkan prospek jangka menengah ekuitas global yang didukung oleh belanja AI, aktivitas ekonomi yang tangguh, dan pertumbuhan laba yang luas, kami juga berpendapat bahwa keputusan tersebut tidak mengurangi peran strategis emas dalam sebuah portofolio,” jelasnya.

UBS meyakini emas tetap menjadi instrumen diversifikasi portofolio yang berharga, khususnya bagi investor yang mengutamakan aset riil. Para analis di bank tersebut menyoroti sejumlah faktor utama yang diperkirakan akan mendukung harga emas dalam jangka menengah.

Permintaan Tinggi dari Bank Sentral

Faktor pertama adalah kuatnya permintaan emas batangan dari bank sentral. Bank sentral China, People’s Bank of China, misalnya, membeli 650.000 ons emas (sekitar 20 metrik ton) pada bulan Agustus 2026. Jumlah ini naik dari 640.000 ons pada Juli 2026, menjadikannya penambahan bulanan terbesar sejak Oktober 2023.

China bukan satu-satunya negara yang berupaya meningkatkan cadangan emas. Survei terbaru World Gold Council menunjukkan hampir 90% bank sentral yang disurvei memperkirakan cadangan emas resmi global akan meningkat dalam 12 bulan ke depan. Sekitar 45% di antaranya memperkirakan peningkatan pada cadangan emas mereka sendiri.

Kekhawatiran Fiskal dan Diversifikasi Dolar AS

UBS melanjutkan bahwa kekhawatiran fiskal juga diperkirakan akan memperkuat tren jangka panjang diversifikasi yang beralih dari dolar AS menuju aset-aset alternatif. “Tingginya utang pemerintah juga diperkirakan akan memperkuat pergeseran bertahap untuk mengurangi ketergantungan yang terkonsentrasi pada dolar AS. Hal ini seharusnya menguntungkan emas, yang secara luas dipandang sebagai penyimpan nilai yang andal dan alternatif bagi mata uang cadangan tradisional,” jelas para analis.

Mereka menambahkan, “Dalam jangka menengah hingga panjang, dolar AS yang lebih lemah juga akan mendorong permintaan terhadap emas dan mendukung harganya.”

Lindung Nilai Terhadap Inflasi dan Ketidakpastian

Terakhir, para analis di UBS menyatakan bahwa emas membantu melindungi portofolio investor dari dampak inflasi dan ketidakpastian geopolitik. “Inflasi yang terus berlanjut dan ketidakpastian geopolitik memperkuat peran emas sebagai sarana lindung nilai dan diversifikasi portofolio,” ujar mereka.

Oleh karena itu, UBS memandang prospek investasi jangka panjang untuk emas masih dalam zona positif. “Kami memandang emas terutama sebagai sarana lindung nilai dan diversifikasi portofolio, bukan sebagai langkah taktis untuk merespons keputusan The Fed berikutnya. Investor yang memiliki alokasi rendah dapat memanfaatkan periode pelemahan harga untuk membangun eksposur strategis dalam portofolio yang terdiversifikasi dengan baik,” kata para analis UBS.