— JAKARTA – Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Mohammad Jumhur Hidayat, menerima kunjungan kehormatan Special Envoy for Climate Change Republik Rakyat Tiongkok, HE Liu Zhenmin, di Jakarta, Kamis (30/6). Pertemuan ini membahas penguatan kerja sama antara kedua negara dalam bidang perubahan iklim dan perlindungan lingkungan hidup.

Kedua pihak sepakat untuk memperdalam kemitraan strategis komprehensif Indonesia-Tiongkok. Fokus utama kerja sama mencakup perubahan iklim, perlindungan lingkungan hidup, transisi energi, dan pembangunan hijau. Kesepakatan ini merupakan tindak lanjut dari pernyataan bersama (Joint Statement) mengenai pendalaman kerja sama strategis kedua negara.

Dalam pertemuan tersebut, Indonesia dan Tiongkok menekankan pentingnya kolaborasi dalam implementasi Persetujuan Paris. Kedua negara berkomitmen untuk tetap berpegang pada prinsip Common but Differentiated Responsibilities and Respective Capabilities (CBDR-RC). Selain itu, mereka juga mendorong negara-negara maju untuk memenuhi komitmen pendanaan, transfer teknologi, dan peningkatan kapasitas bagi negara berkembang.

Indonesia dan Tiongkok juga sepakat untuk mempererat koordinasi menjelang berbagai forum internasional. Tujuannya adalah untuk memperjuangkan kepentingan bersama negara-negara berkembang di kancah global.

Menteri LHK Jumhur Hidayat menegaskan bahwa Indonesia mengusung paradigma ‘Growth through Environmental Protection’. Paradigma ini menjadikan perlindungan lingkungan sebagai fondasi utama pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Hal ini akan diwujudkan melalui pengembangan pasar karbon, keanekaragaman hayati, ekonomi sirkular, dan keadilan iklim.

“Perlindungan lingkungan harus menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Indonesia siap memperkuat kerja sama dengan Tiongkok untuk menghadirkan solusi nyata bagi aksi iklim dan pembangunan berkelanjutan,” ujar Jumhur.

Jumhur menambahkan, Indonesia dan Tiongkok memiliki tanggung jawab bersama sebagai dua negara berkembang besar untuk memberikan solusi terhadap tantangan perubahan iklim global. Solusi ini harus tetap memperhatikan kebutuhan pembangunan nasional dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Indonesia meyakini perlindungan lingkungan bukan merupakan beban pembangunan, melainkan fondasi bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Karena itu kami mengusung paradigma Growth through Environmental Protection, yaitu membangun kesejahteraan melalui perlindungan lingkungan hidup, dengan memastikan bahwa manfaat ekonomi hijau dapat dirasakan secara adil oleh masyarakat,” jelas Jumhur.

Lebih lanjut, Jumhur memaparkan bahwa Indonesia sedang mengembangkan pendekatan baru yang mengintegrasikan mitigasi, adaptasi, dan kesejahteraan (prosperity) sebagai tiga pilar aksi iklim nasional. Pendekatan ini akan diperkuat melalui pengembangan pasar karbon, kredit keanekaragaman hayati (biodiversity credit), mekanisme pembagian manfaat (benefit sharing), dan penguatan prinsip Climate Justice sebagai dasar pembangunan berkelanjutan Indonesia.

Sementara itu, Special Envoy for Climate Change Tiongkok, HE Liu Zhenmin, menyampaikan apresiasi atas kepemimpinan Indonesia dalam agenda pembangunan hijau. Ia menegaskan kesiapan Tiongkok untuk memperluas kerja sama praktis di bidang perubahan iklim, energi bersih, teknologi hijau, sistem peringatan dini, ekonomi sirkular, serta perlindungan lingkungan.

Pertemuan tersebut juga membahas penguatan kerja sama dalam berbagai aspek, termasuk pengembangan energi terbarukan, pasar karbon, pengelolaan sampah menjadi energi (waste-to-energy), perlindungan keanekaragaman hayati, hilirisasi mineral kritis, riset bersama, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Indonesia dan Tiongkok sepakat untuk menindaklanjuti peluang kerja sama tersebut melalui koordinasi teknis yang lebih intensif. Tujuannya adalah untuk menghasilkan program-program yang memberikan manfaat nyata bagi kedua negara.

Pertemuan ini menegaskan kembali komitmen Indonesia dan Tiongkok dalam memperkuat kemitraan strategis. Tujuannya adalah mewujudkan pembangunan rendah karbon, ketahanan iklim, serta perlindungan lingkungan hidup yang mendukung kesejahteraan masyarakat dan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).