Jurnal Indonesia — Pemerintah Indonesia berencana mengimplementasikan program kewajiban pencampuran bioetanol sebesar 20% ke dalam bahan bakar jenis bensin, yang dikenal sebagai E20, dalam beberapa tahun mendatang. Langkah ini terinspirasi oleh keberhasilan negara lain seperti Brasil yang telah mencapai E100 dan India yang kini berada di E20. Untuk menjamin ketersediaan bahan baku utama bioetanol, yaitu tetes tebu atau molase, seluruh perkebunan tebu di Indonesia akan diremajakan. Targetnya, seluas 100 ribu hektare (ha) per tahun akan diremajakan, dengan harapan program ini tuntas paling cepat dalam dua tahun.
Presiden Prabowo Subianto menyatakan optimisme Indonesia dapat menyamai capaian India dalam program bioetanol. “India sudah E20, Brasil sudah E100, masa Indonesia tidak bisa, Indonesia bisa kan? Bisa,” ujarnya. Tahap awal, Indonesia akan menuju E10, yang kemudian dilanjutkan ke E20.
Seiring dengan itu, Presiden telah memutuskan pembangunan 30 pabrik bioetanol. “Tadi saya putuskan, kita akan bangun minimal 30 pabrik, kalau perlu sampai 50 pabrik,” kata Presiden saat memimpin Panen Raya Serentak Bersama TNI di Malang, Jawa Timur, Jumat (17/07/2026). Saat ini, Indonesia baru memiliki satu pabrik bioetanol.
Implementasi program bioetanol sangat bergantung pada pasokan molase, hasil samping dari pengolahan tebu. Oleh karena itu, pemerintah akan meremajakan seluruh perkebunan tebu nasional. Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman melaporkan bahwa Indonesia belum melakukan peremajaan tebu selama 12 tahun terakhir. “Kita sekarang akan meremajakan semua tebu yang kita miliki,” jelas Presiden.
Mentan menjanjikan peremajaan seluruh kebun tebu nasional dapat diselesaikan dalam dua tahun, meskipun program kerja yang direncanakan membutuhkan empat tahun. “Dengan gagah berani Mentan mengatakan, kita bisa dalam dua tahun, tapi saya bilang, bagus, tapi kamu jangan masuk rumah sakit, negara dan bangsa masih butuh kamu,” ujar Presiden.
Peremajaan perkebunan tebu ini juga diharapkan dapat mempercepat pencapaian swasembada gula. Presiden menekankan bahwa swasembada pangan, energi, dan air merupakan program prioritas pemerintah saat ini. Swasembada pangan, terutama beras, telah tercapai, dan kini fokus beralih ke swasembada gula dan energi.
Pemerintahan Presiden Prabowo juga sedang gencar menertibkan berbagai kegiatan ilegal yang merugikan masyarakat. “Kita sedang mengadakan penertiban besar-besaran atas semua kegiatan ilegal, penyelundupan, tambang ilegal, perkebunan ilegal, perikanan ilegal, permainan-permainan dagang ilegal,” tutur Presiden.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menargetkan implementasi program bioetanol secara bertahap. Rencana pemerintah mencakup pencampuran 5% etanol ke bensin (E5) mulai Juli 2026, dilanjutkan E10 pada 2027, dan target penuh E20 pada 2028-2029. Dengan dukungan sumber daya alam yang melimpah dan pembangunan industri pengolahan yang memadai, pemerintah meyakini transisi energi Indonesia dapat dipercepat melalui implementasi E20.
Acara Gerakan Nasional Panen Raya Serentak di Seluruh Indonesia Bersama TNI yang dipimpin Presiden Prabowo dipusatkan di Lanud Abdulrachman Saleh, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Panen raya serentak ini tersebar di 43 titik di seluruh Indonesia dengan tujuan memperkuat ketahanan pangan nasional.
Seremoni panen raya TNI ditandai dengan penekanan sirene oleh Presiden Prabowo, Panglima TNI Agus Subiyanto, Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Maruli Simanjuntak, Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Mohammad Ali, Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Mohamad Tonny Harjono, Menko Pangan Zulkifli Hasan, serta Mentan Amran. “Bismillahirrahmanirrahim. Pada sore hari ini, Jumat, 17 Juli 2026, dengan rahmat Tuhan Yang Maha Esa, saya Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia, menyatakan panen raya bersama TNI resmi dimulai,” kata Presiden Prabowo.
Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menegaskan bahwa ketahanan pangan harus menjadi gerakan nasional yang melibatkan seluruh kekuatan bangsa. Ia mengapresiasi semangat persatuan, kolaborasi, dan gotong royong dari semua komponen bangsa dalam mendukung peningkatan produksi pangan nasional.
Kegiatan ini merupakan bagian dari sinergi TNI dalam mendukung program ketahanan pangan nasional. Panen dilakukan terhadap tiga komoditas strategis: tebu yang didampingi TNI AU, padi oleh TNI AD, dan kedelai oleh TNI AL. TNI AU mendampingi lahan tebu seluas 236.048 ha dengan potensi produksi 18,39 juta ton tebu, yang diperkirakan berkontribusi 45,05% terhadap target nasional 2026.
Di Lanud Abdulrachman Saleh, luas lahan tebu siap panen mencapai 800,5 ha dengan estimasi produksi sekitar 72.045 ton. Dengan harga tebu di pabrik Rp 720 ribu per ton, hasil panen ini diharapkan memberikan nilai ekonomi signifikan bagi petani. Panen raya ini juga diharapkan mendukung upaya hilirisasi tebu menjadi berbagai produk turunan seperti molases, bioetanol, pupuk organik, dan produk lainnya untuk meningkatkan nilai tambah perekonomian nasional.
Pendampingan TNI AL pada komoditas kedelai dilakukan di lahan 2.432 ha di enam wilayah, dengan potensi produksi 3.676 ton. TNI AL juga membuka lahan baru seluas 3.110 ha di tujuh wilayah dengan estimasi produksi 5.287 ton. Di sektor padi, TNI AD melaksanakan panen di lahan 479.659 ha sepanjang Juli 2026.
Secara kumulatif, Januari-Juni 2026, TNI AD telah mendampingi panen padi di lahan 6,26 juta ha dengan produksi 19,2 juta ton beras, mendukung 55,24% dari target produksi beras nasional 2026. Selain memimpin panen raya, Presiden Prabowo juga meninjau stan program unggulan TNI dan inisiatif hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah sektor pertanian dan industri nasional.
Ikuti Jurnal Indonesia
