— Mantan Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani Indrawati, telah mendapatkan kepercayaan baru di kancah internasional. Ia ditunjuk sebagai Independent Co-Chair (Ketua Bersama Independen) untuk putaran ke-22 penggalangan dana Asosiasi Pembangunan Internasional (IDA) Grup Bank Dunia (WBG). Keputusan ini diambil berdasarkan persetujuan dari perwakilan negara dan peminjam negara anggota IDA WBG.

Proses seleksi untuk posisi bergengsi ini melibatkan sejumlah kandidat kuat yang berhasil masuk dalam daftar pendek (shortlist). Sri Mulyani berhasil unggul setelah melalui tahapan seleksi yang ketat oleh komite pencarian yang terdiri dari perwakilan donor dan negara peminjam. Dalam perannya, Sri Mulyani akan bertugas menghimpun dukungan kebijakan dan finansial yang lebih solid, baik dari negara-negara donor maupun negara-negara peminjam.

Ia akan memimpin proses penggalangan dana IDA22 ini bersama dengan Managing Director and Chief Knowledge Officer WBG, Paschal Donohoe. Pertemuan penggalangan dana IDA sendiri merupakan agenda rutin yang biasanya dilaksanakan setiap tiga tahun sekali. Tujuannya adalah untuk mengumpulkan dana segar yang akan disalurkan melalui IDA, yang merupakan instrumen khusus Bank Dunia yang didedikasikan untuk membantu negara-negara miskin.

Sejak putaran IDA ke-18, tradisi kepemimpinan pertemuan ini selalu melibatkan dua tokoh terkemuka. Satu figur independen yang memiliki keahlian mumpuni di bidang bank pembangunan multilateral, dan satu lagi perwakilan tingkat tinggi dari WBG yang ditunjuk langsung oleh Presiden Bank Dunia.

Penunjukan Sri Mulyani bukanlah tanpa alasan. Beliau memiliki rekam jejak yang panjang dan pengalaman luas dalam bidang keuangan pembangunan internasional. Saat ini, ia juga sedang menjabat sebagai Blavatnik World Leaders Fellow 2025-26 di Universitas Oxford.

Selain pernah mengukir sejarah sebagai menteri keuangan wanita pertama di Indonesia, Sri Mulyani juga pernah mengemban amanah sebagai Managing Director sekaligus Chief Operating Officer di WBG. Pengabdian dan kontribusinya di dunia keuangan global telah mendapatkan pengakuan internasional, termasuk masuk dalam daftar 100 Wanita Paling Berpengaruh di Dunia versi majalah Forbes.

IDA sendiri dikenal sebagai salah satu motor penggerak finansial terbesar di dunia yang memiliki misi utama untuk memberantas kemiskinan ekstrem di negara-negara berpenghasilan rendah. Melalui skema pinjaman dengan bunga nol atau sangat rendah (zero- or low-interest loans) serta bantuan hibah, IDA secara konsisten menyokong berbagai proyek dan program strategis. Proyek-proyek ini bertujuan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, memperkuat ketahanan nasional, serta meningkatkan taraf hidup masyarakat miskin di seluruh dunia.

Sejak pertama kali beroperasi pada tahun 1960, IDA telah menyalurkan dana lebih dari US$ 632 miliar untuk berbagai investasi di 115 negara. Siklus pengisian ulang dana untuk periode IDA22 dijadwalkan akan diluncurkan secara resmi dalam agenda Mid-Term Review yang akan diselenggarakan di Tashkent, Uzbekistan, pada Desember 2026 mendatang.

Sementara itu, puncak pertemuan penggalangan komitmen pendanaan (pledging meeting) diprediksi akan dilaksanakan pada Desember 2027. Melalui skema IDA22 inilah skala pembiayaan konsesional bagi 78 negara mitra akan ditentukan untuk jangka waktu hingga tahun 2031.