— JAKARTA – Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah melancarkan serangan rudal jelajah ke infrastruktur data center Amazon di Bahrain. Iran menyatakan serangan tersebut berhasil menghancurkan fasilitas yang ada. Insiden ini merupakan eskalasi terbaru dalam konflik yang memanas antara Teheran dan Washington.

Hingga kini, belum ada konfirmasi resmi dari pihak Amazon, Amerika Serikat, maupun pejabat Bahrain mengenai klaim serangan tersebut. Media pemerintah Iran pada Selasa (21/7) mengumumkan bahwa Aerospace Force IRGC menargetkan infrastruktur data center Amazon di Bahrain. Selain itu, sistem pertahanan udara dan instalasi radar milik AS di kawasan Muharraq dan Riffa, Bahrain, juga disebut menjadi sasaran.

Pemerintah Iran menyatakan bahwa operasi militer ini adalah balasan atas serangan Amerika Serikat terhadap pembangkit listrik tenaga nuklir Darkhovin yang masih dalam pembangunan di barat daya Iran. Pasukan AS dilaporkan telah melakukan serangan rutin setiap malam di berbagai wilayah Iran sejak konflik kembali memanas awal bulan ini. Teheran merespons dengan membidik fasilitas militer dan situs yang terafiliasi dengan AS di kawasan Teluk.

Sampai berita ini diturunkan, belum ada bukti independen yang membenarkan klaim IRGC. Pihak Amazon memilih untuk tidak memberikan komentar ketika dihubungi wartawan. Para pejabat di Bahrain dan AS juga masih bungkam, seperti dikutip dari Techspot pada Jumat (24/7/2026).

Pemantauan pada dasbor kesehatan publik Amazon Web Services (AWS) menunjukkan bahwa wilayah Timur Tengah atau Bahrain, yang dikenal dengan kode me-south-1, saat ini memang tidak tersedia. Namun, hal ini tidak serta-merta membuktikan klaim serangan Iran pada hari Selasa itu benar-benar terjadi. Wilayah tersebut telah berstatus offline selama berbulan-bulan akibat rentetan serangan sebelumnya yang berkaitan dengan konflik ini. Pembaruan publik terakhir dari AWS terkait situasi tersebut diunggah pada 30 April lalu.

Sebelumnya, Iran telah menegaskan bahwa perusahaan teknologi asal Amerika Serikat dianggap sebagai target potensial dalam konflik ini. Pada bulan April, laporan mencatat bahwa IRGC sempat mengancam sejumlah perusahaan teknologi AS karena dituduh mendukung operasi militer terhadap Iran. Karyawan diimbau untuk segera mengevakuasi tempat kerja mereka. Beberapa perusahaan yang masuk daftar ancaman tersebut meliputi Nvidia, Microsoft, Intel, Apple, Google, Meta, dan Oracle.

Beberapa hari setelahnya, Iran juga mengancam akan menyerang data center AI Stargate UAE senilai 30 miliar dolar AS di Abu Dhabi. Fasilitas berkapasitas 1GW yang sedang direncanakan tersebut diketahui mendapat dukungan dari OpenAI, Oracle, Nvidia, Cisco, G42, dan SoftBank.