Jurnal Indonesia — Harga emas dunia bergerak stagnan di dekat level terendah dalam sepekan pada perdagangan Jumat (11/9/2026). Pasar kini menanti rilis data inflasi konsumen Amerika Serikat (AS) yang diperkirakan akan memengaruhi arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, The Fed.
Pada saat berita ini ditulis, harga emas tercatat naik tipis 0,114% ke level US$ 4.322,07 per ons troi. Sebelumnya, logam mulia ini sempat menyentuh level terendah sejak 2 September 2026. Penurunan signifikan terjadi pada perdagangan Kamis (10/9/2026), di mana harga emas anjlok hampir 2% setelah data inflasi produsen AS menunjukkan tekanan harga yang masih tinggi.
Sementara itu, harga emas berjangka AS untuk pengiriman Desember dilaporkan turun 1% menjadi US$ 4.363,65 per ons troi. Tekanan terhadap harga emas ini muncul setelah ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed menguat. Pelaku pasar menilai bank sentral AS semakin mungkin menaikkan biaya pinjaman jangka pendek dalam pertemuan kebijakan yang akan datang.
Data Producer Price Index (PPI) AS untuk permintaan akhir menunjukkan kenaikan sebesar 0,4% pada Agustus, setelah revisi kenaikan Juli menjadi 0,1%. Data ini memperkuat kekhawatiran mengenai tekanan inflasi yang masih cukup tinggi di AS.
Perhatian pasar kini sepenuhnya beralih ke data Consumer Price Index (CPI) AS yang dijadwalkan rilis pada Jumat (11/9/2026) pukul 12.30 GMT atau 19.30 WIB. CPI merupakan salah satu data penting terakhir yang akan menjadi pertimbangan The Fed sebelum mengambil keputusan suku bunga pada pertemuan 15–16 September 2026.
Jika data inflasi kembali menunjukkan kenaikan yang lebih tinggi dari perkiraan, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dapat semakin menguat. Kondisi tersebut berpotensi menekan harga emas lebih lanjut, mengingat logam mulia tidak memberikan imbal hasil.
Sebaliknya, data inflasi yang lebih lunak dari perkiraan dapat meredakan tekanan terhadap emas dan memberikan ruang bagi harga untuk kembali stabil.
Harga Minyak dan Ketegangan Geopolitik Ikut Perkuat Sentimen
Selain data inflasi dan suku bunga, kenaikan harga minyak dunia juga menjadi perhatian pasar. Lonjakan harga energi, yang dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah, meningkatkan risiko inflasi dan berpotensi membuat bank sentral mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik masih menjadi faktor pendukung emas sebagai aset safe haven. Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran dilaporkan mengambil alih pelabuhan Mocha di Yaman pada Kamis dan bergerak menyusuri pesisir Laut Merah menuju sejumlah pulau strategis.
Perkembangan ini terjadi beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa perang dengan Iran diperkirakan baru akan berakhir setelah pemilu sela AS.
Namun, untuk saat ini, tekanan dari meningkatnya ekspektasi suku bunga The Fed masih membayangi pergerakan harga emas. Investor juga mencermati pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Kenaikan yield obligasi dapat meningkatkan biaya peluang memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas.
Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot dilaporkan turun 0,57% menjadi US$ 63,22 per ons. Harga platinum melemah 0,37% ke US$ 1.774,5 per ons, sedangkan palladium turun 0,04% menjadi US$ 1.282,29 per ons.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.