— LIMAPULUH KOTA – Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Andre Rosiade, meninjau langsung progres pembangunan ruas Jalan Payakumbuh-Sitangkai di Jorong Bulakan, Nagari Tanjuang Gadang, Kecamatan Lareh Sago Halaban, Kabupaten Limapuluh Kota. Ia memastikan bahwa pembangunan jalan sepanjang 9,5 kilometer tersebut telah rampung dan siap dinikmati masyarakat.

Tinjauan politikus Partai Gerindra ini didampingi oleh Kepala Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) Sumbar, Elsa Putra Friandi, pada Sabtu (22/8). Pembangunan jalan ini menelan anggaran sekitar Rp 68 miliar yang bersumber dari APBN melalui program Instruksi Presiden (Inpres) Jalan Daerah (IJD).

“Alhamdulillah sudah selesai, sudah mulus. Masyarakat sudah bisa menikmati jalan ini,” kata Andre dalam keterangannya, Minggu (23/8/2026).

Andre menambahkan, pembangunan jalan ini merupakan bukti nyata komitmen Presiden Prabowo Subianto dalam mempercepat pembangunan infrastruktur di Sumatera Barat. Proyek ini diawasi langsung oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Balai Jalan Nasional.

“Ini komitmen Pak Presiden bagaimana membantu percepatan pembangunan Sumbar. Presiden ingin Sumatera Barat dibangun, digelontorkan melalui Kementerian PU, melalui Balai Jalan Nasional, menggunakan APBN,” ujarnya.

Lebih lanjut, Andre menjelaskan bahwa setelah ruas Payakumbuh-Sitangkai selesai, pemerintah akan melanjutkan pembangunan untuk ruas Sitangkai menuju Guguk Cino, dan Guguk Cino menuju Bukit Gombak di Batusangkar. Sekitar 3,3 kilometer jalan direncanakan dibangun dengan total anggaran kurang lebih Rp 36,5 miliar.

“Insyaallah kalau lancar, November atau akhir tahun ini kita bisa memulai pekerjaan konstruksi dari Sitangkai ke Guguk Cino maupun Guguk Cino menuju Bukit Gombak di Batusangkar,” ungkapnya.

Andre Rosiade menargetkan pembangunan lanjutan tersebut juga menggunakan program IJD. Setelah konektivitas Batusangkar terealisasi, pembangunan akan dilanjutkan pada 2027 untuk jalur Batusangkar ke Ombilin, dengan target penyelesaian pertengahan 2027.

Pembangunan jalan ini dipastikan akan memberikan dampak positif signifikan terhadap mobilitas masyarakat. Andre menyebutkan bahwa sebelumnya, kondisi jalan yang rusak dan berlubang kerap menyulitkan warga, terutama saat musim hujan. Kini, masyarakat tidak perlu lagi khawatir akan kecelakaan.

“Masyarakat sangat terbantu, arus mobilisasinya terbantu. Tidak takut lagi kecelakaan atau jatuh selama ini karena jalannya rusak, jelek, berbecek. Mudah-mudahan jalan ini bisa dijaga, jangan sampai rusak, sehingga masyarakat bisa menikmati lebih lama lagi,” kata Andre.

Pembangunan Menggunakan Konstruksi Beton

Kepala BPJN Sumbar, Elsa Putra Friandi, menjelaskan bahwa pembangunan jalan ini menggunakan konstruksi beton atau rigid pavement. Pilihan ini diambil setelah mempertimbangkan kondisi tanah serta kawasan yang rawan air, sehingga diharapkan penggunaan jalan lebih awet.

“Memang di sini kondisi tanahnya berat. Makanya saat desain kami pilih konstruksi rigid beton, sehingga dengan beban lebih awet dan terhadap daerah-daerah yang rawan dengan air juga lebih awet,” jelas Friandi.

Friandi menambahkan, lebar jalan juga ditingkatkan dari sebelumnya sekitar empat meter menjadi enam meter, dengan ketebalan beton mencapai 30 sentimeter. Jalan ini dirancang untuk menampung beban kendaraan yang lebih besar, sesuai dengan standar muatan sumbu terberat (MST) sekitar delapan ton dan ketentuan teknis lainnya.

Terkait usulan program IJD 2027, Friandi menyebutkan bahwa usulan dari kabupaten dan kota di Sumatera Barat mencapai sekitar Rp 500 miliar. Usulan tersebut saat ini masih dalam tahap verifikasi dan finalisasi sebelum diajukan ke Kementerian PU.

Wali Nagari Tanjuang Gadang, Zamhar, menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam atas pembangunan jalan ini. Ia mengatakan akses jalan yang lebih baik dan aman kini dapat dinikmati oleh masyarakat.

“Terima kasih Pak Andre. Terima kasih Pak Presiden Prabowo atas jalannya. Dulu kami makan kabut jalan, sekarang alhamdulillah,” ujar Zamhar.

Senada dengan Zamhar, Guru SD 01 Tanjuang Gadang, Mai Roza, mengungkapkan bahwa kerusakan jalan tersebut telah berlangsung hampir 10 tahun dan belum pernah mendapat perbaikan menyeluruh. Perbaikan sebelumnya hanya bersifat tambal sulam dan kembali rusak setelah terkena hujan atau dilalui kendaraan berat.

“Dikatakan sudah hampir 10 tahun. Tidak ada perbaikan sebelumnya,” katanya. “Ada perbaikan, mungkin kalau jalannya berlubang ditampal sedikit. Besok sudah hujan lagi, berlubang lagi,” imbuh Mai.