— Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengusulkan alokasi anggaran sebesar Rp1,39 triliun untuk memulihkan berbagai fasilitas kesehatan di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terdampak gempa. Langkah ini bertujuan agar layanan kesehatan tidak lagi dilakukan secara darurat di tenda.

“Mengapa ini penting Bapak Presiden? Karena tidak mungkin layanan kesehatan itu dilakukan terus di tenda, baik yang untuk puskesmas dan rumah sakit,” ujar Budi dalam rapat bersama Presiden Prabowo Subianto di Jakarta, Senin (7/9/2026).

Anggaran tersebut direncanakan untuk perbaikan 165 puskesmas dan 12 Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di NTT, yang telah dikoordinasikan bersama Gubernur NTT.

Sejak awal bencana, Kementerian Kesehatan telah berfokus pada penanganan masalah kesehatan darurat, termasuk pencarian pasien yang terdampak. “Ada sembilan ratus lebih pasien yang patah tulang atau badan, tangan, kaki, kepala, yang kita cari dengan mengirim hampir sembilan ratus relawan ke desa-desa di sana,” jelas Budi.

Ia bersyukur bahwa dalam satu minggu, ratusan pasien tersebut telah tertangani, dengan sekitar empat ratus di antaranya memerlukan perawatan intensif di rumah sakit untuk operasi atau penanganan lanjutan.

Tahap kedua penanganan difokuskan pada pemulihan operasional puskesmas dan rumah sakit. “Ada 165 puskesmas yang rusak, 34 di antaranya hancur. 12 rumah sakit yang rusak, 2 di antaranya hancur di Nagekeo dan di Ruteng,” ungkapnya.

Sebagai respons cepat, Kemenkes bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Palang Merah Indonesia (PMI) telah menyediakan tenda untuk layanan puskesmas. “Kita juga terima kasih ke Menkominfo dan Pak Bahlil, karena sudah mendapatkan puluhan genset dan Starlink, dan sekarang 165 puskesmas dan 12 rumah sakit sudah beroperasi kembali,” katanya.

Presiden Prabowo Subianto memimpin rapat terbatas (ratas) untuk memantau perkembangan penanganan sejumlah bencana alam di Indonesia melalui konferensi video dari Jakarta, Senin. Presiden Prabowo menekankan pentingnya kesiapan pemerintah dalam menghadapi berbagai kondisi kebencanaan.

“Saya mengundang kita rapat melalui VCon (video conference) ya. Saya hanya ingin monitor gimana perkembangan sekaligus mendengar situasi yang terkini. Kita menghadapi berbagai keadaan karena bencana,” kata Presiden Prabowo.

Menyikapi posisi Indonesia sebagai negara di kawasan Cincin Api Pasifik atau ‘ring of fire’, Presiden menekankan perlunya peningkatan alokasi anggaran mitigasi bencana secara signifikan sebagai pelajaran berharga.