Jurnal Indonesia — Anggota Badan Pengkajian (BP) Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI sekaligus Anggota Komisi VIII DPR RI, Sigit Purnomo, atau yang akrab disapa Pasha Ungu, memberikan apresiasi terhadap Pidato Kenegaraan Presiden yang dinilainya memaparkan capaian konkret pemerintah secara faktual. Ia menilai pidato tersebut berdampak langsung bagi masyarakat di lapangan.
Pasha Ungu menyampaikan pandangannya usai menghadiri Sidang Tahunan MPR RI yang dirangkaikan dengan Sidang Bersama DPR-DPD RI dan Pidato Kenegaraan Presiden dalam rangka HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Acara tersebut digelar di Ruang Rapat Paripurna, Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Jumat (14/8).
Menurut Sigit, pidato kenegaraan tahun ini terasa berbeda dan memberikan dorongan optimisme. Ia menyoroti bukti-bukti nyata pembangunan yang disampaikan, mulai dari keberhasilan program Sekolah Rakyat (SR) untuk anak-anak di pulau terluar, penguatan kedaulatan energi nasional melalui B50, hingga komitmen tegas dalam penindakan tambang ilegal.
“Pidato kenegaraan tahun ini membedakan secara nyata dibanding tahun sebelumnya. Presiden tidak hanya menyampaikan wacana, tetapi memaparkan capaian yang betul-betul dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ujar Sigit, mengutip pernyataannya pada Jumat (14/8/2026).
Ia lebih lanjut menyebutkan bahwa kehadiran anak-anak peserta didik Sekolah Rakyat dari kawasan pelosok dan pulau terluar, seperti Manado dan Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi bukti kehadiran negara dalam memberikan akses pendidikan gratis tanpa biaya.
Catatan Kritis Implementasi Bansos
Di samping apresiasinya, Sigit juga menyampaikan catatan kritis terkait implementasi kebijakan di tingkat akar rumput. Berdasarkan penyerapan aspirasi di daerah pemilihannya, Dapil DKI Jakarta II yang mencakup Kepulauan Seribu, Jakarta Barat, dan Jakarta Utara, ia menemukan persoalan serius dalam sistem pendataan penerima bantuan sosial (bansos).
Ia mengungkapkan adanya keluhan dari masyarakat di mana warga miskin tereliminasi dari status Desil 1, yang merupakan penerima manfaat utama, hanya karena tercatat memiliki utang pinjaman mikro. Padahal, utang tersebut bukan untuk barang konsumtif atau kebutuhan mewah, melainkan semata-mata untuk kebutuhan bertahan hidup dan membeli makanan.
“Di lapangan kami menerima laporan bahwa ada warga yang tidak masuk kriteria Desil 1 hanya karena memiliki pinjaman uang. Padahal utang tersebut bukan untuk barang konsumtif atau kebutuhan mewah seperti mobil dan motor, melainkan semata-mata untuk bertahan hidup dan membeli makanan esok hari. Ide besar Presiden ini harus ditunjang oleh pemutakhiran data yang konkret dan akurat agar bantuan benar-benar tepat sasaran,” tegas Sigit, yang juga dikenal sebagai vokalis grup band Ungu.
Dukungan Anggaran dan Transportasi Publik
Sigit juga menggarisbawahi pentingnya dukungan alokasi anggaran yang memadai untuk penanganan bencana alam. Ia memberikan contoh kasus penanganan bencana di Sumatera Utara yang sempat terkendala operasional akibat keterbatasan anggaran siap pakai dan armada pendukung.
Menanggapi wacana pengoperasian moda transportasi publik yang terinterkoneksi menuju Kepulauan Seribu, Sigit menyambut hangat gagasan ekspansi transportasi laut yang disubsidi pemerintah ini. Ia berharap agar layanan tersebut dapat semakin terjangkau bagi masyarakat luas.
“Presiden menyampaikan bahwa pembangunan adalah sebuah long march, perjuangan panjang yang membutuhkan perbaikan dan pembenahan secara terus-menerus. Kami di Badan Pengkajian MPR RI berkomitmen mengawal agar gagasan besar pemerintah dapat berjalan efektif, tepat sasaran, serta ditopang oleh kesiapan anggaran yang adil,” tutup Sigit Purnomo.
Sidang Tahunan MPR RI tersebut dihadiri oleh Pimpinan dan anggota MPR RI, pimpinan lembaga negara, ketua umum partai politik, Menteri Kabinet Merah Putih, Panglima TNI, Kapolri, serta duta besar negara sahabat. Sejumlah tokoh nasional juga tampak hadir, termasuk Presiden RI ke-7 Joko Widodo, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla, Wakil Presiden ke-11 Boediono, serta Wakil Presiden ke-13 KH Ma’ruf Amin. Turut hadir pula istri Presiden RI Ke-4 Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid dan istri Wakil Presiden RI Ke-9 Soraya Hamzah Haz.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.