— Upaya pemulihan pascabencana di Kabupaten Aceh Tengah terus berlanjut dengan percepatan pembangunan Jembatan Perintis Garuda di Kecamatan Linge. Proyek ini dimaksudkan sebagai solusi permanen menyusul putusnya penghubung antara Desa Reje Payung dan Desa Jamat akibat bencana hidrometeorologi.

Putusnya jalur penghubung sebelumnya mengganggu aktivitas sehari-hari warga: anak-anak kesulitan ke sekolah, petani terbatas akses ke lahan, dan mobilitas ekonomi komunitas terganggu. Pada masa tanggap darurat, pihak militer, relawan, dan masyarakat membangun jembatan darurat, namun struktur sementara itu beberapa kali hanyut saat debit sungai tinggi.

Pembangunan Jembatan Perintis Garuda dimulai pada April 2026 sebagai respons terhadap kebutuhan infrastruktur yang lebih aman dan berkelanjutan. Pekerjaan melibatkan Kodim 0106/Aceh Tengah, jajaran Koramil, 25 prajurit Yonif TP, tenaga teknis Zidam, serta dukungan masyarakat setempat.

Danramil 05 Kodim 0106/Aceh Tengah, Letnan Satu Infanteri Mukhlis, mengatakan pembangunan berjalan sesuai target. “Kami saat ini sedang melaksanakan pembangunan Jembatan Perintis Garuda. Progresnya sudah mencapai 53 persen dan kami berupaya menyelesaikannya dalam sekitar 10 hari ke depan atau tepatnya pada 15 Juli,” ujarnya dalam keterangan, Minggu (5/7/2026).

Keberadaan jembatan diharapkan mengembalikan kelancaran mobilitas masyarakat serta mendukung akses pendidikan, distribusi hasil pertanian, dan pergerakan ekonomi di Kecamatan Linge. Infrastruktur yang lebih kokoh juga diharapkan mengurangi risiko gangguan aktivitas saat cuaca ekstrem kembali terjadi.

Pembangunan Jembatan Perintis Garuda masuk dalam rangkaian rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana yang bertujuan tidak hanya membangun infrastruktur tetapi juga memulihkan kualitas hidup masyarakat melalui akses yang lebih aman dan andal.