Jurnal Indonesia — JAKARTA, Indonesia – Pasar Fast-Moving Consumer Goods (FMCG) di Indonesia menunjukkan tingkat persaingan yang semakin ketat. Meskipun kebiasaan belanja masyarakat relatif stabil, hanya sebagian kecil merek yang mampu mencatat pertumbuhan. Hal ini terungkap dalam laporan terbaru Brand Footprint 2026 dari Worldpanel by Numerator.
Laporan tahunan ini mengukur popularitas merek FMCG melalui metrik Consumer Reach Points (CRPs), yang mencerminkan seberapa sering konsumen memilih suatu merek. CRPs mengacu pada jumlah pembeli yang berinteraksi dengan merek, menunjukkan preferensi dan kekuatan merek di mata konsumen.
Merek-merek teratas dalam daftar 10 Merek FMCG Paling Banyak Dipilih Tahun Ini didominasi oleh Indomie, diikuti oleh So Klin, Mie Sedaap, Roma, Indofood, Royco, Kapal Api, NABATI, Masako, dan Frisian Flag. Susunan daftar ini menunjukkan stabilitas, dengan Indofood dan Royco bertukar posisi, sementara Frisian Flag kembali masuk 10 besar menggantikan Daia.
Meskipun rumah tangga Indonesia rata-rata membeli sekitar 95 merek kebutuhan sehari-hari dan melakukan 293 perjalanan belanja per tahun, lanskap persaingan semakin menantang. Jumlah merek yang dilacak dalam laporan meningkat dari 436 menjadi 451, menandakan persaingan yang lebih intensif untuk merebut perhatian konsumen.
“Akibatnya, hanya 44% merek yang mencatat pertumbuhan pada tahun 2025, dibandingkan 62% pada tahun sebelumnya. Konsumen masih berbelanja secara rutin, tetapi merek tidak lagi dapat mengandalkan pertumbuhan pasar semata. Memenangkan pembeli baru menjadi lebih penting daripada sebelumnya,” ujar Venu Madhav, Managing Director Worldpanel Indonesia, di Jakarta, Rabu (15/07/2026).
Laporan tersebut menekankan bahwa menjangkau lebih banyak rumah tangga menjadi pendorong utama pertumbuhan berkelanjutan. Sekitar 80% merek yang tumbuh berhasil meningkatkan penetrasi rumah tangga, baik melalui peningkatan frekuensi pembelian maupun akuisisi pembeli baru. Ini menegaskan bahwa menarik konsumen baru adalah fondasi kesuksesan jangka panjang.
Bagi merek besar, mendorong frekuensi pembelian menjadi krusial setelah mencapai skala tertentu. Namun, pertumbuhan yang konsisten tetap bergantung pada kemampuan menarik konsumen baru. Di sisi lain, merek-merek kecil terus menunjukkan momentum positif, kini mewakili 41% dari total merek yang dilacak, meningkat dari 39% tahun lalu. Lebih dari separuh merek kecil ini mencatat pertumbuhan, menunjukkan keterbukaan konsumen terhadap inovasi, nilai yang baik, dan produk yang relevan dengan kebutuhan sehari-hari.
Beberapa merek Indonesia berhasil mencapai pertumbuhan berkelanjutan melalui kombinasi inovasi, distribusi yang kuat, dan relevansi konsumen. Merek Desaku, misalnya, melanjutkan tren positifnya selama tiga tahun berturut-turut dengan mempermudah aktivitas memasak. Ragam produk rempah, bumbu, dan penyedap yang luas, kemasan sachet terjangkau, serta kehadiran kuat di ritel tradisional, membantunya menarik lebih dari enam juta pembeli baru.
Baby Happy juga memperkuat posisinya dengan memperluas portofolio melalui kemasan sachet dan program promosi “beli lebih banyak, hemat lebih banyak”. Kombinasi inovasi, harga terjangkau, dan distribusi yang lebih luas di berbagai kanal, termasuk toko online dan spesialis, berhasil menarik 1,7 juta pembeli baru dalam setahun terakhir.
Corina Fajriyani, Marketing Lead Worldpanel Indonesia, menyimpulkan bahwa pertumbuhan berkelanjutan berasal dari pemahaman mendalam terhadap pembeli dan kemampuan merek untuk tetap relevan dalam kehidupan sehari-hari. “Merek-merek yang berkinerja terbaik adalah mereka yang terus menarik pembeli baru sekaligus memberikan lebih banyak alasan bagi konsumen untuk memilih mereka,” katanya.
Ikuti Jurnal Indonesia
