Jurnal Indonesia — Perkembangan Artificial Intelligence (AI) tidak hanya mengubah cara bisnis beroperasi, tetapi juga mendefinisikan ulang bagaimana entrepreneur membangun, mengembangkan, dan memperluas bisnisnya. Menjawab tantangan ini, Proxsis & Co memperkenalkan AI-Preneurship Ecosystem, sebuah pendekatan yang mengintegrasikan budaya entrepreneur, kolaborasi lintas bisnis, serta pemanfaatan AI untuk menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan.
Inisiatif ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang Proxsis & Co dalam membangun ekosistem yang tidak hanya melahirkan bisnis yang bertumbuh, tetapi juga mencetak entrepreneur baru yang mampu menciptakan dampak lebih luas bagi organisasi, pelanggan, dan masyarakat. Komitmen tersebut ditegaskan melalui penyelenggaraan Kick Off RUPS 2026 bertema ‘Building Entrepreneur Ecosystem for Sustainable Growth’.
Forum strategis ini mempertemukan Founder, Co-founder, Business owner, Direktur, dan para Entrepreneur dari 7 holding beserta berbagai unit bisnis dalam ekosistem Proxsis & Co. Acara ini juga menghadirkan Ryan Maurice Tallulah (Founder Bardi Smart home) sebagai pembicara untuk berbagi perspektif mengenai strategi membangun bisnis yang mampu bertumbuh di tengah percepatan perkembangan teknologi.
Berbeda dari forum perencanaan bisnis pada umumnya, Kick Off RUPS 2026 Proxsis & Co. tidak hanya menjadi ruang penyelarasan target bisnis tahunan, tetapi juga momentum untuk membangun pola pikir, memperkuat budaya kolaborasi, mempercepat regenerasi kepemimpinan, serta menyatukan arah pertumbuhan seluruh ekosistem Proxsis.
Aditya Prima Putera, Presiden Direktur Proxsis & Co, menegaskan bahwa Kick Off RUPS 2026 bukan sekadar agenda penyusunan rencana bisnis, melainkan momentum membangun Entrepreneur Ecosystem yang mendorong pertumbuhan berkelanjutan (Sustainable Growth). Keberhasilan forum ini tidak diukur dari selesainya seluruh rangkaian acara, tetapi dari perubahan cara berpikir para pemimpin bisnis dalam mengambil keputusan, menjalankan usaha, dan menciptakan dampak yang lebih besar bagi ekosistem.
Proxsis juga mengumumkan penyesuaian periode kinerja perusahaan dari Januari–Desember menjadi Juli–Juni mulai periode 2026–2027 sebagai bagian dari penyelarasan strategi seluruh holding dan unit bisnis.
Tantangan dan Adaptasi Bisnis Pasca-Pandemi
Founder Proxsis Group Rudi Maulana mengatakan, sebagian besar perusahaan masih berupaya beradaptasi dengan berbagai tantangan yang muncul sejak pandemi Covid-19 hingga gejolak ekonomi global. “Kalau melihat kondisi klien-klien kami, memang tantangannya cukup berat. Mulai dari pandemi, konflik geopolitik, hingga tekanan ekonomi global. Bisa dibilang bukan lagi double strike, tetapi sudah triple strike,” ujarnya.
Menurut Rudi, tekanan tersebut diperkirakan masih akan berlanjut hingga penghujung tahun. Oleh karena itu, perusahaan perlu mempercepat adaptasi melalui inovasi, efisiensi operasional, serta pemanfaatan teknologi digital. Ia menilai kondisi saat ini justru menjadi momentum bagi korporasi untuk melakukan transformasi bisnis sehingga lebih siap ketika perekonomian membaik pada 2027.
AI sebagai Akselerator Pertumbuhan
Dalam sesi Building the AI-Preneurship Ecosystem, Roni Sulistyo Sutrisno (Co-Founder Proxsis & Co) menjelaskan, bahwa AI bukan sekadar perkembangan teknologi, melainkan pengungkit untuk memperbesar dampak organisasi. “Organisasi masa depan akan dimenangkan oleh mereka yang mampu menyelaraskan AI dengan tujuan bisnis, membangun AI Champion di setiap entitas, serta memperkuat kolaborasi dalam sebuah ekosistem,” ujarnya.
Sementara itu, Founder Proxsis & Co, Rudi Maulana, mengajak seluruh peserta mengubah cara berpikir dari sekadar business leader menjadi entrepreneur dan business owner. Menurutnya, bisnis pertama bukan tujuan akhir, melainkan modal awal untuk membangun bisnis-bisnis berikutnya. Entrepreneur dituntut membangun aset produktif, memperluas investasi, menyiapkan kaderisasi, dan meninggalkan legacy melalui lahirnya entrepreneur-entrepreneur baru yang akan memperkuat ekosistem.
Memperluas Zona Nyaman dan Peluang Pasar
Co-Founder BARDI Ryan Maurice Tallulah menilai kondisi saat ini justru membuka peluang bagi perusahaan yang selama ini menjalankan bisnis dengan mematuhi regulasi. Menurut Ryan, pengetatan pengawasan terhadap perdagangan digital dan impor membuat persaingan menjadi lebih sehat karena seluruh pelaku usaha dituntut memenuhi ketentuan yang sama.
“Saat ini adalah momentum yang baik bagi perusahaan yang selama ini comply. Dulu mungkin hanya sedikit yang memenuhi seluruh aturan, sekarang semua pelaku harus mengikuti regulasi yang sama sehingga persaingan menjadi lebih adil,” ujarnya. Ryan mengajak seluruh entrepreneur untuk terus memperluas comfort zone sebagai syarat pertumbuhan. Setiap pencapaian harus menjadi titik awal menuju level berikutnya melalui filosofi ‘struggle to Scale‘, yaitu keberanian memulai tantangan baru dengan memanfaatkan pengalaman, jejaring, dan privilege yang telah dimiliki.
Menurutnya, titik Nol bukan hanya soal uang, tapi posisi di mana kita memulai hidup, mengawali sebuah perjalanan membangun bisnis.
Budaya Proxsis: Grow Others to Grow Together
Yumei Sulistyo, Komisaris Holding PT Proxsis Solusi Bisnis, menegaskan bahwa fondasi budaya Proxsis adalah filosofi Grow Others to Grow Together (GOGT). Setiap entrepreneur didorong untuk tidak hanya mengejar pertumbuhan bisnisnya sendiri, tetapi juga aktif melakukan nurturing, berbagi pengalaman, membangun kaderisasi, dan melahirkan entrepreneur baru.
Menurutnya, Proxsis ingin membangun Intelligent Ecosystem, bukan sekadar menghasilkan individu-individu hebat, sehingga setiap kesempatan menjadi ruang untuk bertumbuh bersama dan menduplikasi kepemimpinan. Melalui AI-Preneurship Ecosystem, Proxsis & Co meyakini bahwa keberhasilan perusahaan tidak hanya diukur dari pertumbuhan pendapatan maupun jumlah bisnis yang dimiliki. Keberhasilan juga ditentukan oleh kemampuan melahirkan entrepreneur baru, memperkuat kolaborasi lintas perusahaan, membangun budaya berbagi pengetahuan, dan menciptakan dampak positif yang berkelanjutan.
“Bagi Proxsis, bisnis pertama adalah titik awal untuk membangun bisnis berikutnya, melahirkan business owner baru, dan memperkuat ekosistem entrepreneur Indonesia,” pungkasnya.
Ikuti Jurnal Indonesia
