Jurnal Indonesia — JAKARTA, Gobel Group mengenang Chairman mereka, Rachmat Gobel, yang wafat sepekan lalu, sebagai seorang pemimpin industri yang menempatkan kepedulian sosial, kerja keras, dan keberlanjutan lintas generasi sebagai pilar utama perjalanan perusahaan. Ribuan ucapan belasungkawa dan kisah mengenai Rachmat mengalir, menyoroti sosoknya yang tidak hanya dikenal sebagai pengusaha sukses tetapi juga pribadi yang sederhana dan peduli terhadap berbagai lapisan masyarakat.
Bagi Gobel Group, peninggalan Rachmat Gobel lebih dari sekadar jaringan usaha yang dibangun puluhan tahun. Perusahaan melihat nilai-nilai kepemimpinan, pengabdian, dan tanggung jawab sosial yang diwariskannya sebagai fondasi kokoh untuk melanjutkan estafet bisnis. Hiramsyah S. Thaib, President Director dan Group CEO Gobel Group, menyatakan bahwa Rachmat telah mempersiapkan landasan organisasi dan budaya perusahaan yang kuat.
“Kami kehilangan seorang pemimpin yang memberikan teladan dan inspirasi. Namun, Bapak Rachmat Gobel juga telah mempersiapkan fondasi perusahaan, budaya, dan nilai-nilai yang menjadi pedoman seluruh keluarga besar Gobel Group,” kata Hiramsyah dalam keterangannya. Ia menambahkan bahwa menjaga nilai-nilai tersebut dan melanjutkan cita-cita perusahaan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat adalah cara terbaik menghormati perjalanan hidup Rachmat.
Filosofi Pohon Pisang sebagai Pedoman
Salah satu nilai fundamental yang melekat dalam perjalanan Gobel Group adalah filosofi pohon pisang, yang pertama kali diperkenalkan oleh pendiri Thayeb Mohammad Gobel. Filosofi ini menggambarkan pohon pisang sebagai tumbuhan yang seluruh bagiannya memiliki manfaat, mulai dari buah hingga daun, yang semuanya dapat dimanfaatkan untuk kehidupan masyarakat. Pohon pisang mengakhiri siklus hidupnya setelah menumbuhkan tunas baru, melambangkan pentingnya kebermanfaatan sekaligus regenerasi.
Rachmat Gobel meneruskan filosofi ini dalam mengembangkan Gobel Group. Ia memandang keberlanjutan perusahaan tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan bisnis, tetapi juga oleh kemampuan membangun organisasi yang kuat, mengembangkan sumber daya manusia, dan menyiapkan generasi penerus. Prinsip ini membentuk budaya perusahaan yang mendorong karyawan untuk terus bertumbuh, berinovasi, dan memandang pekerjaan sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat.
Menyiapkan Generasi Penerus untuk Keberlanjutan
Saat ini, Gobel Group menaungi lebih dari 25 entitas bisnis di berbagai sektor dengan lebih dari 18.000 karyawan. Di tengah dinamika perkembangan tersebut, perusahaan menempatkan regenerasi sebagai elemen krusial untuk kesinambungan organisasi. Regenerasi di sini dipahami bukan sekadar pergantian kepemimpinan, melainkan proses menanamkan nilai, membentuk karakter, dan memberikan pengalaman berharga kepada calon penerus.
Putra Rachmat, M. Arif Rachmat Gobel, telah menjalani proses pembelajaran yang intensif sejak usia sekolah. Ia diperkenalkan pada kegiatan operasional perusahaan melalui magang di pabrik dan tinggal di asrama karyawan saat SMP. Pengalaman ini dilanjutkan dengan pendidikan di Jepang. Setelah menyelesaikan studinya, Arif memulai karier dari divisi penjualan dan memegang berbagai tanggung jawab di perusahaan. Saat ini, ia menjabat sebagai Director dan Digital Transformation Leader Gobel Group.
Proses ini mencerminkan pandangan Rachmat bahwa seorang pemimpin harus memahami pekerjaan dari tingkat operasional, mengenal kehidupan karyawan, serta memiliki semangat belajar yang tak pernah padam. “Ayahanda selalu mengajarkan bahwa perusahaan tidak hanya diukur dari pertumbuhan bisnis, tetapi juga dari manfaat yang diberikan kepada masyarakat,” ujar Arif. Ia menekankan bahwa kepemimpinan adalah amanah yang harus dijalankan dengan kerendahan hati dan keberanian untuk menyiapkan generasi berikutnya.
Sepeninggal Rachmat Gobel, Gobel Group berkomitmen untuk melanjutkan visi perusahaan melalui penguatan tata kelola, inovasi, serta pengembangan talenta lintas generasi. Nilai kebermanfaatan yang diwariskan oleh Thayeb Mohammad Gobel dan diteruskan oleh Rachmat menjadi pengingat bahwa keberlanjutan perusahaan tidak hanya ditentukan oleh usia atau skala usaha, tetapi oleh kemampuan menjaga nilai-nilai luhur dan menyiapkan penerus yang kompeten.
Ikuti Jurnal Indonesia
