— JAKARTA, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) tengah mengkaji kemungkinan untuk mengakuisisi aset panas bumi milik PT Geo Dipa Energi yang berlokasi di Dieng dan Patuha. Langkah ini berpotensi mendorong munculnya target harga baru untuk saham PGEO.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Andhika Audrey, menyatakan bahwa akuisisi tersebut dinilai sebagai cara yang lebih efisien bagi PGEO untuk menambah kapasitas terpasang. “Kami menilai akuisisi tersebut dapat menjadi jalur yang lebih cepat bagi PGEO untuk meningkatkan kapasitas, karena aset Dieng dan Patuha telah beroperasi. Kedua aset itu memiliki total kapasitas operasi sekitar 120 MW,” tulisnya dalam riset.

Meskipun demikian, produksi gabungan dari kedua aset tersebut tercatat mengalami penurunan menjadi 763 GWh pada tahun 2025, turun dari 859 GWh pada tahun 2024. Oleh karena itu, kualitas aset dan kebutuhan pemeliharaan menjadi pertimbangan krusial yang memerlukan penelaahan mendalam dalam proses uji tuntas (due diligence) terkait rencana akuisisi Geo Dipa.

Pertumbuhan Produksi PGEO dan Target Kapasitas

Dalam lima bulan pertama tahun 2026, Pertamina Geothermal Energy (PGEO) berhasil mencatatkan pertumbuhan produksi listrik sebesar 14,5% secara tahunan (yoy). Pertumbuhan ini mencapai 2.284 GWh, didukung oleh kontribusi penuh dari Lumut Balai Unit 2 dan peningkatan penyaluran listrik panas bumi seiring dengan berkurangnya pasokan batu bara, gas, dan bahan bakar diesel.

“Kondisi ini mendorong rata-rata faktor kapasitas PGEO menjadi 90,2%, meningkat 5,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya,” ungkap Andhika.

PGEO memiliki target ambisius untuk mencapai kapasitas terpasang sebesar 988 MW pada tahun 2028, meningkat dari proyeksi 727 MW pada tahun 2026. Peningkatan ini akan dicapai melalui pengoperasian Ulubelu Binary Unit 1-3 dengan total kapasitas 30 MW pada tahun 2027, diikuti oleh proyek Hululais Unit 1-2 berkapasitas 110 MW. Selain itu, sejumlah proyek tekanan rendah dan siklus biner di Kamojang, Lahendong, Lumut Balai, Sibayak, dan Hululais juga direncanakan pada tahun 2028.

PGEO juga terus mengembangkan proyek kogenerasi dengan potensi kapasitas hingga 230 MW. Kogenerasi merupakan metode pemanfaatan energi panas bumi secara terpadu untuk menghasilkan listrik atau bentuk energi lainnya dengan efisiensi yang lebih tinggi.

Dorongan Reformasi Tarif Panas Bumi

Di sisi lain, PGEO bersama para pelaku usaha panas bumi lainnya secara aktif mendorong kenaikan tarif energi panas bumi. Upaya ini dilakukan melalui peninjauan kembali Peraturan Presiden Nomor 112 Tahun 2022. Reformasi tarif yang diusulkan bertujuan untuk meningkatkan kelayakan ekonomi proyek dengan menaikkan internal rate of return (IRR) ke kisaran 10-12%, yang saat ini dibutuhkan oleh para pengembang.

Proyeksi Laba Bersih dan Target Harga

BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan laba bersih Pertamina Geothermal Energy (PGEO) tahun ini akan mencapai US$ 144,9 juta, menunjukkan pertumbuhan 5,2% yoy. Proyeksi ini didukung oleh volume penjualan listrik sebesar 5.256 GWh atau naik 3,2% yoy, serta tingkat penyaluran listrik yang lebih tinggi.

Selanjutnya, pada tahun 2027, laba bersih PGEO diprediksi meningkat menjadi US$ 161,9 juta, seiring dengan beroperasinya kapasitas pembangkit baru.

“Skenario dasar kami telah memperhitungkan rencana ekspansi organik PGEO. Namun, potensi penyesuaian tarif panas bumi dan akuisisi aset Geo Dipa belum dimasukkan ke dalam valuasi, sehingga dapat memberikan tambahan potensi kenaikan,” ujar Andhika.

BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli untuk saham PGEO dengan menaikkan target harga berbasis metode discounted cash flow (DCF) menjadi Rp 1.300 per saham, naik dari sebelumnya Rp 1.250.

Target harga baru ini mencerminkan potensi peningkatan nilai perusahaan seiring dengan ekspansi kapasitas pembangkit yang ditargetkan mencapai 988 MW pada tahun 2028. Namun, risiko utama yang perlu diwaspadai adalah normalisasi pasokan batu bara yang lebih cepat yang dapat mengurangi penyaluran listrik panas bumi, keterlambatan penyelesaian PPA dan pembangunan proyek, serta potensi peningkatan capex dan biaya akuisisi yang melebihi perkiraan.