— Presiden Prabowo Subianto membantah keras anggapan bahwa perekonomian Indonesia sedang mengalami kemunduran atau berada di ambang kolaps. Menurutnya, berbagai indikator ekonomi nasional menunjukkan kondisi yang tetap baik di tengah situasi global yang penuh tantangan.

Pernyataan ini disampaikan Prabowo saat memimpin panen raya TNI di Lanud Abdulrachman Saleh, Kabupaten Malang, Jawa Timur, pada Jumat (17/7/2026). Ia mengajak masyarakat untuk tidak mudah terpengaruh oleh narasi pesimistis mengenai kondisi perekonomian Indonesia.

“Jangan membebek kepada kekuatan asing terus. Indonesia jelek, Indonesia apa? Indonesia gelap. Kalau pakai kacamata gelap ya gelap terus. Tiap bulan Indonesia akan kolaps. Juni kolaps, Juli kolaps. Mikirnya, mikir kolaps. Biar saja,” ujar Prabowo di Malang, Jawa Timur, Jumat (17/7/2026).

Prabowo menjelaskan bahwa pemerintah memilih untuk tidak larut dalam pandangan negatif tersebut dan tetap fokus pada pekerjaan. Pemerintah, tegasnya, terus menjalankan program pembangunan dengan semangat, optimisme, dan keyakinan bahwa Indonesia mampu mengatasi berbagai tantangan.

“Kalau di tentara ada istilah, tinggalkan, beri tanda. Kita jalan terus. Kita bekerja dengan semangat, gembira, semangat optimis. Orang berani itu gembira. Orang berani itu optimis. Orang sedih duduk di kamar aja,” tutur Prabowo.

Presiden mengungkapkan bahwa optimisme ini didasarkan pada sejumlah capaian yang telah terlihat. Salah satunya adalah laporan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadeea yang menyebutkan kondisi perekonomian Indonesia tetap baik meskipun dunia tengah menghadapi berbagai gejolak, termasuk konflik di sejumlah kawasan.

“Sekarang hasil-hasil sudah mulai kita lihat. Menteri keuangan melaporkan kondisi ekonomi kita bagus,” tegas Prabowo.

Kepala negara menekankan bahwa kondisi perekonomian nasional dalam keadaan prima. Pemerintah bahkan tengah menggarap proyek strategis nasional (PSN) liquefied natural gas (LNG) Abadi Masela di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, yang mulai dibangun setelah 28 tahun mangkrak.

Selain itu, Kepala Negara juga menyoroti keberhasilan Indonesia sebagai negara pertama yang mampu mengimplementasikan biodiesel B50 berbahan baku 50% kelapa sawit. Menurutnya, kebijakan ini membuat Indonesia mulai menghentikan impor solar, sehingga anggaran yang sebelumnya digunakan untuk membeli bahan bakar dari luar negeri dapat berputar di dalam negeri dan memberikan manfaat bagi petani kelapa sawit.

“Jadi mulai Juli ini kita tidak akan impor solar lagi dari luar negeri. Lebih baik uang itu beredar di Indonesia, dinikmati petani-petani seluruh Indonesia,” ucapnya.

RI Menuju Implementasi E10

Lebih lanjut, Prabowo mengungkapkan bahwa pemerintah terus mematangkan pengembangan bioetanol sebagai campuran bensin. Ia menyebut, Indonesia saat ini tengah menuju implementasi E10 atau campuran 10% etanol dalam bensin, namun ia optimistis Indonesia dapat melangkah lebih cepat menuju E20.

Untuk mewujudkan target tersebut, pemerintah memutuskan akan membangun 50 pabrik etanol. “Butuh pabrik. Tadi pabriknya yang baru kita miliki baru satu pabrik. Tadi saya putuskan kita akan bangun minimal 30 pabrik. Kalau perlu sampai 50 pabrik,” terangnya.

Menurut Prabowo, target tersebut realistis karena sejumlah negara telah lebih dahulu menerapkannya. Ia mencontohkan India yang telah mengimplementasikan E20 serta Brasil yang telah menggunakan bahan bakar berbasis etanol hingga E100.

Berkaca pada pengalaman negara-negara tersebut, Prabowo meyakini Indonesia juga mampu mengembangkan industri bioetanol dan mewujudkan E20 sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi. Berbagai langkah ini diyakini akan mendukung ketahanan energi nasional, mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil impor, serta memberikan dampak positif bagi perekonomian nasional.