Jurnal Indonesia — AC Milan – Goncalo Ramos menyatakan bahwa dirinya tidak merasa terbebani dengan statusnya sebagai pemain termahal dalam sejarah AC Milan. Meski baru mencetak satu gol dalam empat penampilan di Liga Italia musim ini, striker berusia 23 tahun itu menegaskan fokus utamanya adalah membawa tim meraih trofi.
Ramos didatangkan dari Paris Saint-Germain dengan mahar 74 juta euro atau sekitar Rp 1,5 triliun pada bursa transfer musim panas lalu. Sejauh ini, ia telah melepaskan 14 tembakan, dengan rata-rata 3,5 percobaan per pertandingan, namun belum mampu menunjukkan performa yang sesuai dengan ekspektasi harga transfernya.
Kesempatan bagi Ramos untuk menambah pundi-pundi golnya akan datang saat AC Milan menjamu mantan klubnya, Benfica, di Liga Europa pekan ini. Menjelang pertandingan tersebut, Ramos mengungkapkan bahwa satu-satunya tekanan yang ia rasakan adalah kewajiban untuk mengantarkan Milan meraih kesuksesan di akhir musim.
“Aku tidak tertekan dengan menjadi pemain termahal dalam sejarah AC Milan,” ujar Ramos kepada UEFA TV. “Memang ada tekanan karena aku mewakili sebuah klub besar, dengan keharusan juara dan mengangkat trofi.”
Ia melanjutkan, “Kurasa tidak ada tekanan yang lebih besar lagi daripada itu. Tidak ada waktu memikirkan tentang siapa pemain termahal atau biaya ini atau itu; apa yang penting adalah menang di setiap pekan.”
Ramos menekankan pentingnya hasil akhir tim di mata para penggemar. “Di akhir musim, apa yang kami maupun fans akan ingat apakah kami menang atau tidak, apakah kami jadi juara atau tidak, apakah kami menjalani musim dengan baik atau tidak. Kurasa itu adalah hal yang terpenting,” pungkasnya.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.