Jurnal Indonesia — JAKARTA – Nilai tukar rupiah (IDR) memulai perdagangan Kamis, 10 September 2026, dengan pelemahan tipis terhadap dolar Amerika Serikat (USD). Pada pembukaan pasar spot exchange, rupiah tercatat melemah 0,01% atau 1 poin ke level Rp 17.512 per dolar AS.
Sementara itu, indeks dolar AS dilaporkan mengalami pelemahan sebesar 0,05% dan berada di level 99.771. Pergerakan ini terjadi setelah pada hari sebelumnya, Rabu (9/9/2026), rupiah berhasil ditutup menguat sebanyak 121 poin atau 0,69% ke posisi Rp 17.511 per dolar AS.
Melemahnya dolar AS secara umum juga terlihat dari pergerakannya terhadap yen Jepang. Dolar AS sempat diperdagangkan mendekati level terendah dalam tujuh bulan terakhir terhadap yen pada Rabu (9/9/2026).。
Pelemahan dolar AS ini terjadi di tengah bertahannya harga minyak di atas US$ 100 per barel akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Investor juga tengah bersiap menghadapi pertemuan bank sentral yang dijadwalkan pekan depan.
Tekanan terhadap dolar AS terutama disebabkan oleh penguatan tajam yen Jepang dalam sepekan terakhir. Selain itu, perubahan ekspektasi pasar menjelang keputusan kebijakan moneter dari Federal Reserve dan Bank of Japan turut memengaruhi sentimen.
Yen Jepang sendiri tercatat menguat 0,23% ke level 153,65 per dolar AS, setelah sebelumnya sempat menyentuh level 152,89 pada hari Selasa (8/9). Kevin Ford, ahli strategi valuta asing (FX) dan makro di Convera, menjelaskan bahwa faktor utama pelemahan dolar AS adalah premi kebijakan AS yang membatasi kenaikannya, sementara yen mendapatkan dukungan dari Departemen Keuangan AS.
“Menurut saya, ada ketidakselarasan sesaat antara ekspektasi suku bunga dan harga minyak, yang sebelumnya memberikan dukungan bagi dolar AS dari sisi perdagangan pada bulan Maret lalu,” ungkap Ford.
Di sisi lain, dolar AS menunjukkan sedikit penguatan terhadap franc Swiss, naik tipis 0,11% ke level 0,8105, setelah sebelumnya sempat mengalami penurunan.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.