Jurnal Indonesia — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menunjukkan penguatan pada penutupan perdagangan Jumat, 17 Juli 2026. Mata uang Garuda berhasil menguat 65 poin atau setara 0,36%, mengakhiri sesi di angka Rp 17.921 per dolar AS. Posisi ini merupakan perbaikan dari penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp 17.986 per dolar AS.
Pada pembukaan perdagangan Jumat pagi, rupiah sempat dibuka menguat tipis 6 poin (0,03%) ke level Rp 17.980 per dolar AS. Penguatan yang berkelanjutan sepanjang hari menunjukkan sentimen positif terhadap mata uang domestik.
Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa penguatan rupiah terjadi di tengah situasi geopolitik yang masih memanas di Timur Tengah. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah serangkaian serangan AS terhadap target-target Iran pada hari Kamis. Konflik yang telah memasuki bulan kelima ini terus menjaga harga minyak mentah tetap tinggi dan memicu kembali kekhawatiran akan lonjakan inflasi akibat biaya energi.
Faktor eksternal lainnya yang memengaruhi pasar adalah pernyataan pejabat Federal Reserve. Mereka terus menekankan bahwa risiko inflasi di Amerika Serikat masih ada, meskipun data terbaru menunjukkan adanya peredaan tekanan harga. Ibrahim Assuaibi menambahkan, “Para pembuat kebijakan telah berulang kali memperingatkan bahwa harga minyak yang lebih tinggi akibat konflik di Timur Tengah dapat memperumit prospek inflasi dan mengatakan bahwa mereka membutuhkan beberapa bulan lagi data harga yang rendah sebelum mempertimbangkan pemotongan suku bunga.” Pernyataan ini disampaikan Ibrahim dalam keterangannya pada Jumat (27/7/2026).
Dari sisi domestik, penguatan rupiah juga ditopang oleh rilis data ekonomi dari Bank Indonesia (BI). BI melaporkan hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) periode kuartal II-2026 yang menunjukkan Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sebesar 12,97%. Angka ini meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya yang tercatat 10,11%.
Dalam survei terpisah, Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia (PMI BI) mencatat kinerja positif pada sektor industri pengolahan. Indeks ini berada di level 51,43% pada kuartal II/2026, meskipun sedikit lebih rendah dari periode sebelumnya yang mencapai 52,03%.
Ikuti Jurnal Indonesia
