— JAKARTA – Nilai tukar rupiah menunjukkan penguatan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada penutupan perdagangan Rabu, 9 September 2026. Data Bloomberg pukul 15.40 WIB mencatat rupiah ditutup menguat 121 poin atau 0,69% ke level Rp 17.511 per dolar AS.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa penguatan rupiah didorong oleh beberapa faktor domestik. Data penjualan ritel dan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang dirilis menunjukkan kinerja positif.

“Yang menyebabkan rupiah menguat dalam perdagangan hari ini adalah data penjualan retail kemudian dengan indeks keyakinan konsumen yang cukup bagus. IKK naik menjadi 118,5. Artinya dengan membaiknya indeks keyakinan konsumen, optimisme pemerintah untuk pertumbuhan ekonomi di kuartal ketiga kemungkinan besar akan tercapai,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Rabu (9/9/2026).

Ibrahim menambahkan, tren positif penjualan ritel di Indonesia pada Agustus turut berkontribusi. Penjualan ritel melonjak 7,7% mencapai 83.422 unit. “Artinya di bulan Agustus ini adalah bulan yang paling menguntungkan bagi pengusaha-pengusaha otomotif yang penjualannya lebih tinggi. Hampir 80.000 unit di tahun 2026 akhir ini mengalami peningkatan yang cukup signifikan,” bebernya.

Meskipun demikian, Ibrahim mengingatkan adanya faktor eksternal yang perlu dicermati. Perkembangan geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur semakin meningkat. Kelompok militan Houthi dilaporkan menyerang lima pangkalan di Arab Saudi, memicu kembali memanasnya situasi di Laut Merah. Ketegangan di Eropa Timur juga masih tinggi akibat serangan militer Rusia ke Ukraina.

“Sedangkan harga minyak mentah sudah di atas US$100 per barrel, terutama untuk brent crude oil, tidak melemahkan mata uang rupiah,” tutup Ibrahim.