Jurnal Indonesia — Kementerian Komunikasi dan Digital (Kominfo) menargetkan kecepatan internet seluler di Indonesia dapat menembus 100 Mbps pada tahun 2029. Target ambisius ini diharapkan tercapai di akhir masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, seiring dengan pemanfaatan pita frekuensi baru.
Melalui lelang frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz, pemerintah membidik peningkatan kecepatan mobile broadband secara signifikan. Komitmen ini menjadi kewajiban bagi para operator telekomunikasi yang memenangkan seleksi, yaitu Telkomsel, Indosat Ooredoo Hutchison, dan XL Axiata.
Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menyatakan bahwa fokus pemerintah tidak hanya pada perluasan jangkauan internet, tetapi juga pada peningkatan kualitas layanan bagi masyarakat. “Salah satu komitmen kewajiban pemenang seleksi adalah mempercepat penggelaran jaringan 5G hingga mencapai setidaknya 51% cakupan populasi nasional pada tahun kelima, dengan target kecepatan mobile broadband kita diharapkan dapat melompat secara bertahap ke 100 Mbps pada tahun 2029,” ujar Meutya di Kementerian Kominfo, Jakarta, Selasa (21/7/2026).
Selain target kecepatan, para pemenang lelang frekuensi juga diwajibkan membangun infrastruktur 4G berkualitas di 538 desa dan kelurahan yang belum terjangkau sinyal memadai. “Artinya ini juga dapat mengurangi lokasi-lokasi atau titik-titik blank spot di desa dan kelurahan yang saat ini belum memiliki sinyal yang baik,” jelas Meutya.
Pemerintah meyakini perluasan jaringan ini akan membuka akses masyarakat terhadap berbagai layanan penting, mulai dari pendidikan, kesehatan, pemerintahan digital, hingga aktivitas ekonomi. Konektivitas yang lebih baik diharapkan menopang program prioritas pemerintah seperti Sekolah Rakyat dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes).
Meutya menegaskan bahwa Kominfo akan terus mengawasi pelaksanaan komitmen operator untuk memastikan target peningkatan kualitas internet nasional tercapai sesuai jadwal. Agenda penataan spektrum nasional juga akan dilanjutkan, termasuk persiapan pemanfaatan pita frekuensi 900 MHz yang ditargetkan dimulai tahun ini, setelah rampungnya seleksi 700 MHz dan 2,6 GHz pada Juli 2026.
Sementara itu, pemerintah masih mengkaji pemanfaatan pita frekuensi 3,5 GHz, yang dinilai ideal untuk pengembangan jaringan 5G berkapasitas tinggi, meskipun saat ini masih digunakan untuk layanan satelit. “Kami juga akan mempersiapkan proses pemanfaatan frekuensi di 900 MHz. Mudah-mudahan lelang dapat dimulai di tahun ini juga sambil kemudian melakukan kajian terhadap band 3,5 GHz,” pungkas Meutya.
Ikuti Jurnal Indonesia
