Jurnal Indonesia — Seorang ibu hamil tewas diduga tertembak peluru nyasar di Kampung Mamba, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah.
Koops TNI Habema mengatakan peluru nyasar itu berasal dari tembakan kelompok bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM).
Kepala Penerangan Koops TNI Habema, Letkol Inf M. Wirya Arthadiguna, menyatakan tembakan berasal dari tiga titik berbeda dan terjadi dalam rentang sekitar 15 menit.
Peristiwa itu menurut keterangan terjadi pada Kamis (2/6). Wirya menyebut pelaku penyerangan merupakan kelompok OPM pimpinan Peles Tigau yang menembakkan dari tiga titik dalam jangka waktu singkat.
“Berdasarkan laporan lapangan, analisis kronologi, dan pemetaan lokasi, gangguan tembakan dilakukan oleh kelompok bersenjata pimpinan Peles Tigau dari tiga titik berbeda dalam rentang waktu sekitar 15 menit,”
Menurut penjelasan TNI, tembakan pertama terdengar sekitar pukul 18.45 WIT dari arah Kampung Wandoga. Lima menit kemudian terdengar tembakan dari titik lain di kawasan perbukitan depan Koramil Sugapa.
“Sekitar pukul 19.00 WIT, kelompok tersebut kembali melepaskan tembakan sebelum melarikan diri ke arah sungai,” tambah Wirya.
Selama kejadian, personel Satgas TNI tidak melakukan tembakan balasan. Kondisi hujan, kabut tebal, dan jarak pandang yang sangat terbatas membuat personel memilih menempati posisi perlindungan sambil memantau situasi untuk menghindari risiko terhadap warga sipil.
Wirya menjelaskan hasil analisis spasial menunjukkan ketiga sumber tembakan berada pada titik berbeda dengan jarak sekitar 900 hingga 1.500 meter. Lokasi korban berada sekitar 321 meter dari titik gangguan tembakan pertama dan lebih jauh dari posisi personel Satgas TNI.
“Hasil analisis spasial menunjukkan bahwa ketiga sumber tembakan berada pada titik yang berbeda dengan jarak sekitar 900 hingga 1.500 meter. Sementara itu, lokasi korban berada sekitar 321 meter dari titik gangguan tembakan pertama dan berjarak lebih jauh dari posisi personel Satgas TNI,”
Wirya menyebut data tersebut menjadi dasar dalam proses analisis kejadian yang masih didalami bersama fakta lapangan lainnya. Ia juga menyoroti potensi risiko bagi warga sipil ketika kawasan permukiman digunakan sebagai lokasi aktivitas kelompok bersenjata.
“Karena itu, Koops TNI Habema terus mengedepankan langkah-langkah yang terukur dan profesional agar keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas,” tegas Wirya.
Ikuti Jurnal Indonesia
