Jurnal Indonesia — Bogor – Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Galuga di Bogor, Jawa Barat, kembali membuka operasionalnya untuk truk pengangkut sampah pada Rabu (9/9/2026). Keputusan ini diambil setelah koordinasi antara Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota dan Kabupaten Bogor, serta Dinas Perhubungan (Dishub) Kota dan Kabupaten Bogor. Pembukaan kembali operasional TPA dilakukan untuk menyeimbangkan kebutuhan pengelolaan sampah dengan upaya penanganan sisa titik api kebakaran yang masih terjadi.
Menurut Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH) Kota Bogor, Rudy Mashudi, sebanyak 128 truk pengangkut sampah telah masuk secara bergantian ke TPAS Galuga pada Rabu pagi. Setiap truk membawa antara 3 hingga 5 ton sampah dari Kota Bogor. Operasional ini dipastikan tidak akan mengganggu proses pemadaman kebakaran yang masih berlangsung.
TPAS Galuga, yang berlokasi di Kecamatan Cibungbulang, merupakan lahan yang dimiliki bersama oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) dan Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor. Kedua pemerintah daerah tersebut kini bersinergi dalam penanganan kebakaran di area tersebut.
Operasional TPA Aman dari Titik Api
Kabid Pengelolaan Persampahan Dinas Lingkungan Hidup (LH) Kabupaten Bogor, Agus Budiarso, menjelaskan bahwa operasional TPA Galuga tetap berjalan karena sisa titik api kebakaran berlokasi jauh dari area utama pengelolaan sampah. “Atas arahan Bupati Bogor, mulai hari ini kegiatan operasional TPA Galuga sudah kembali berjalan. Kondisi secara umum masih aman, lokasi kebakaran berada di bagian ujung area TPA,” ujar Agus.
Untuk memastikan kelancaran operasional dan mencegah hambatan terhadap upaya pemadaman, pihak Dinas Perhubungan (Dishub) disiagakan di lokasi. Mereka bertugas mengatur lalu lintas truk pengangkut sampah agar tidak menghambat mobil pemadam kebakaran maupun armada dari Dinas Sosial yang membantu penanganan kebakaran.
Kendala Penanganan Kebakaran
Meskipun operasional TPA kembali berjalan, penanganan kebakaran di TPA Galuga masih menghadapi sejumlah kendala. Wakil Wali Kota Bogor, Jenal Mutaqin, menyebutkan bahwa angin kencang menjadi salah satu faktor yang memperlambat proses pemadaman. Angin tersebut berpotensi menyalakan kembali api yang sudah padam.
Selain itu, keterbatasan sumber air juga menjadi kendala signifikan. Kontur area TPA yang berbukit dan berpotensi longsor memerlukan penanganan yang ekstra hati-hati dari petugas. “Stok air kita memang ini yang cukup menjadi kendala dan keterbatasan penglihatan, karena jarak pandang sangat terbatas sehingga alat berat pun perlu hati-hati dalam melangkah,” ungkap Jenal.
Petugas pemadam kebakaran masih menemukan beberapa titik api yang terus diupayakan untuk ditangani. Meskipun demikian, kedua pemerintah daerah berkomitmen untuk terus memaksimalkan upaya penanganan dengan potensi yang ada demi mengendalikan situasi di TPAS Galuga.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.