Jurnal Indonesia — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan kepada Presiden Rusia Vladimir Putin bahwa penyelesaian konflik di Ukraina secara cepat dapat membuka jalan bagi pemulihan penuh hubungan perdagangan dan ekonomi kedua negara. Informasi ini diungkapkan oleh pihak Kremlin usai pembicaraan telepon antara kedua pemimpin.
Dalam percakapan tersebut, Trump dan Putin bertukar pandangan mengenai hasil kunjungan utusan khusus AS Steve Witkoff dan Jared Kushner ke Moskow dan Kyiv baru-baru ini. Kunjungan utusan tersebut dilakukan guna menghidupkan kembali jalur diplomasi yang sempat terhenti demi mengakhiri konflik.
Asisten Presiden Rusia Yuri Ushakov menyatakan, komunikasi telepon tersebut berlangsung selama satu jam serta berjalan konstruktif dan terbuka. Trump menegaskan keinginannya agar perang di Ukraina dapat berakhir secepat mungkin. Sementara itu, Putin memberikan analisis secara menyeluruh mengenai operasi militer yang dijalankan Rusia.
Ushakov menambahkan, Trump menilai penghentian invasi secara cepat akan membuka prospek luas bagi pemulihan hubungan bilateral AS dan Rusia. Dalam kesempatan yang sama, Putin memaparkan pandangannya mengenai langkah yang dapat diambil pihak AS untuk membantu menghentikan operasi militer, sekaligus membantah spekulasi mengenai ancaman Rusia terhadap negara-negara Eropa.
Pembicaraan ini menjadi komunikasi telepon kelima antara Trump dan Putin sepanjang tahun ini, sekaligus yang ke-15 sejak presiden AS tersebut kembali menjabat pada awal 2025.
Eskalasi Serangan di Tengah Jalur Diplomasi
Di sisi lain, situasi di lapangan masih diwarnai ketegangan. Rusia kembali melancarkan serangan udara ke sejumlah kota besar di Ukraina setelah sempat terhenti sejenak selama kunjungan utusan perdamaian AS. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyayangkan minimnya respons dari komunitas internasional terhadap gelombang serangan terbaru yang menelan korban jiwa tersebut.
Zelensky berulang kali mengingatkan kekhawatiran menjelang musim dingin dan mendesak para sekutu untuk segera menyalurkan bantuan rudal pencegat guna memperkuat pertahanan udara yang kian terbatas. Sementara itu, pasukan Ukraina terus melakukan serangan pesawat nirawak jarak jauh yang menyasar kilang minyak serta pusat logistik di wilayah Rusia untuk menekan biaya perang Rusia.
Konflik bersenjata antara Rusia dan Ukraina yang bermula dari invasi skala penuh pada Februari 2022 kini telah berlangsung lebih dari empat setengah tahun. Perang ini tidak hanya merusak infrastruktur dan menelan banyak korban jiwa, tetapi juga memicu krisis energi global serta merenggangkan hubungan diplomatik antara Rusia dan negara-negara Barat.
Sejak kembali memimpin AS pada awal 2025, Donald Trump mendorong percepatan negosiasi damai untuk mengakhiri perang. Penunjukan utusan khusus seperti Steve Witkoff dan Jared Kushner menjadi bagian dari strategi diplomasi aktif AS untuk menjembatani komunikasi antara Rusia dan Ukraina. Namun, dinamika di lapangan tetap kompleks karena perbedaan mendasar terkait syarat pemulihan wilayah serta jaminan keamanan bagi kedua belah pihak.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.