Jurnal Indonesia — PT United Tractors Tbk (UNTR) menargetkan Australia sebagai lokasi utama untuk ekspansi bisnis pertambangan di luar negeri. Perseroan berencana mengakuisisi aset mineral berskala besar di negara tersebut untuk memperkuat portofolio pertambangan di tengah tantangan yang dihadapi sektor batu bara.
Australia dipilih karena menawarkan sumber daya mineral yang melimpah, baik dari segi kuantitas maupun skala. Kondisi ini dinilai memberikan ruang bagi UNTR untuk mencari aset yang sesuai dengan kapasitas perseroan sekaligus memperluas bisnis mineral di luar lini bisnis yang sudah ada.
Langkah strategis ini mencerminkan fokus UNTR dalam mencari aset tambang bernilai tinggi. Meskipun bisnis batu bara tetap dijaga, pertumbuhan baru diarahkan pada komoditas emas, nikel, dan mineral dasar, termasuk potensi pada tembaga dan batu bara metalurgi.
“Untuk saat ini, fokus United Tractors masih di Indonesia dan Australia. Kenapa Australia kami jadikan fokus setelah Indonesia? Karena dari sisi ketersediaan tambang, resources di sana sangat besar, baik dalam jumlah maupun skalanya,” ujar Presiden Direktur United Tractors Iwan Hadiantoro dalam Public Expose Live pada Senin (7/9/2026).
Incar Tembaga dan Batu Bara Metalurgi
Ekspansi ke Australia merupakan bagian dari strategi UNTR untuk mengurangi ketergantungan pada siklus batu bara dengan meningkatkan porsi eksposur pada sektor mineral.
Di sektor pertambangan mineral, UNTR telah memiliki PT Agincourt Resources yang mengoperasikan tambang Martabe, serta bisnis nikel melalui anak usaha lainnya. Kini, perseroan membuka peluang ekspansi lebih luas dengan mencari aset baru yang memiliki skala signifikan dan sesuai dengan kriteria investasi yang ditetapkan.
Tembaga menjadi salah satu komoditas yang masuk dalam radar pertimbangan UNTR, meskipun saat ini belum ada proyek komoditas tersebut dalam pipeline perseroan. “Tembaga tetap merupakan salah satu mineral yang kami pertimbangkan,” tutur Iwan.
Selain mineral, UNTR juga menjajaki peluang investasi pada batu bara metalurgi (metallurgical coal). Komoditas ini dinilai masih memiliki prospek cerah karena belum ada substitusi yang dapat menggantikan penggunaannya secara luas. “Kami juga mempertimbangkan untuk berinvestasi di bidang metallurgical coal, karena prospeknya masih bagus, dan hingga saat ini belum melihat ada substitusi untuk komoditas tersebut,” jelas Iwan.
Ilustrasi PT Turangga Resources, anak usaha PT United Tractors Tbk (UNTR). (Foto: Turangga Resources)
Perbaikan Kinerja dan Selektivitas Investasi
Dorongan untuk memperluas portofolio ini muncul seiring dengan tekanan yang dihadapi kinerja UNTR pada semester I-2026. Pendapatan bersih tercatat turun 15% menjadi Rp58,3 triliun dari Rp68,5 triliun, sementara laba bersih sebelum pos nonrecurring mengalami penurunan 48% menjadi Rp4,3 triliun.
Penurunan kinerja ini terutama disebabkan oleh penurunan penjualan emas dari Agincourt, serta pelemahan bisnis alat berat dan pertambangan batu bara termal maupun metalurgi akibat pemangkasan alokasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) nasional. Operasi Martabe yang sempat terhenti juga menyebabkan penjualan emas turun tajam sebelum kembali beroperasi pada kuartal II.
“2026 second half ini kondisi membaik, terutama dipicu oleh adanya improvement dalam hal tambang batu bara kami. Ada revisi RKAB, dan kita harapkan juga adanya perbaikan dalam penjualan alat berat, bisnis mining contracting, serta tambang emas,” kata Iwan.
Perbaikan operasional mulai terlihat pada Juli 2026. Berdasarkan riset BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), produksi batu bara PAMA naik 10% secara bulanan menjadi 13 juta ton, sementara penjualan alat berat Komatsu meningkat 31% dibandingkan Juni menjadi 399 unit.
Di tengah rencana ekspansi tersebut, UNTR juga menunjukkan sikap selektif dalam mengalokasikan modal. Manajemen menekankan bahwa aset baru harus memiliki skala signifikan, valuasi menarik, dan memenuhi kriteria investasi perseroan.
Selektivitas yang sama juga diterapkan pada bisnis energi terbarukan. Untuk Supreme Energy Rantau Dedap, di mana UNTR memiliki sekitar 40% saham, perseroan tidak berencana menambah modal maupun shareholder loan. Proyek panas bumi tersebut memiliki kapasitas sekitar 52 megawatt (MW), masih di bawah kapasitas optimal sekitar 90 MW.
“Strategi kami ke depannya untuk Supreme Energi ini, kami tidak melakukan penambahan capital maupun shareholder loan,” ujar Direktur Keuangan UNTR Vilihati Surya.
Sementara itu, diversifikasi energi tetap berjalan melalui proyek waste-to-energy (WTE) Legok Nangka, Jawa Barat. United Tractors, melalui PT Energia Prima Nusantara, memegang sekitar 21% saham dalam konsorsium yang dipimpin Sumitomo Corporation.
Konsorsium tersebut telah menandatangani perjanjian jual beli listrik dengan PLN dan kesepakatan pengelolaan sampah dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Proyek ini kini memasuki tahap pembentukan organisasi dan financial close, dengan target konstruksi dimulai pada 2027 dan selesai pada 2030.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.