Peringatan: Informasi dalam artikel ini tidak ditujukan untuk menginspirasi siapa pun untuk melakukan tindakan serupa. Jika Anda mengalami gejala depresi atau memiliki pemikiran untuk bunuh diri, segera konsultasikan dengan profesional kesehatan mental.

Seorang YouTuber berusia 50-an tahun meninggal dunia setelah menelan racun saat melakukan siaran langsung di dalam kendaraannya di dekat rumahnya. Penontonnya dilaporkan berupaya keras menyelamatkannya dengan menghubungi layanan darurat.

Peristiwa tragis ini terjadi pada 18 Juli 2026 di Sinangu, Gwangju-si, Provinsi Jeolla Selatan, Korea Selatan. Sebelum insiden tersebut, YouTuber yang identitasnya dirahasiakan oleh kepolisian ini diketahui terlibat perdebatan dengan beberapa pelanggan kanalnya.

Menurut pihak kepolisian, yang mengidentifikasi YouTuber tersebut sebagai ‘A’ sesuai aturan privasi, seorang penonton segera menghubungi nomor darurat 119 saat mengetahui ‘A’ menelan zat beracun.

Petugas layanan darurat yang tiba di lokasi menemukan ‘A’ dalam kondisi henti jantung. Ia segera dilarikan ke rumah sakit di Mokpo, namun nyawanya tidak dapat diselamatkan dan ia dinyatakan meninggal dunia.

Pihak kepolisian telah mengamankan rekaman siaran langsung tersebut. Saat ini, pihak berwenang tengah menyelidiki percakapan ‘A’ selama perdebatan dengan pelanggannya serta detail pasti di balik kematiannya, demikian dilaporkan oleh Dexerto pada Rabu (22/7/2026).

YouTuber ‘A’ dilaporkan tinggal bersama keluarganya di pulau tersebut dan mengelola sebuah kanal kecil yang sebagian besar kontennya berupa percakapan sehari-hari dengan para pelanggannya.

Insiden ini bukan pertama kalinya kreator konten meninggal akibat menelan zat beracun. Pada awal tahun yang sama, seorang influencer makanan asal Filipina meninggal beberapa hari setelah mengonsumsi krustasea beracun yang dikenal sebagai “kepiting setan”.

Korea Selatan sendiri telah menyaksikan beberapa kasus kematian streamer dalam setahun terakhir. Pada tahun 2025, seorang streamer ditemukan tewas dan seorang penonton ditangkap atas tuduhan pembunuhan setelah menyumbangkan puluhan ribu dolar kepadanya. Dalam kasus lain, Na Dong-hyun, yang dikenal secara online sebagai Dae Library, ditemukan tewas di rumahnya di Seoul setelah teman-temannya menghubungi polisi karena ia tidak hadir dalam pertemuan yang dijadwalkan dan tidak dapat dihubungi.