Jurnal Indonesia — Sebaran abu vulkanik dari aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) meningkatkan risiko kesehatan bagi masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan. Kondisi ini sangat memengaruhi pengemudi ojek dan taksi daring yang menghabiskan sebagian besar waktu kerjanya di jalan.
Untuk mengurangi paparan abu dan potensi risiko kecelakaan, perlindungan pernapasan, mata, kulit, serta kewaspadaan saat berkendara menjadi sangat penting. Menyadari hal ini, Grab Indonesia telah menyalurkan ribuan masker kepada mitra pengemudinya di sejumlah titik dengan mobilitas tinggi di wilayah Jabodetabek dan Tangerang. Lokasi distribusi meliputi Stasiun Tanah Abang, MRT Fatmawati, MRT Lebak Bulus, dan Stasiun Tangerang.
Selain pembagian masker, Grab juga menyampaikan panduan keselamatan melalui aplikasi kepada para pengemudi roda dua, roda empat, dan mitra merchant. Country Marketing & Communications Head Grab Indonesia, Melinda Savitri, menyatakan bahwa pengemudi menghadapi paparan lebih besar karena mayoritas aktivitas kerja mereka dilakukan di luar ruangan. Oleh karena itu, dukungan diberikan melalui penyediaan masker dan edukasi keselamatan.
“Banyak masyarakat tetap perlu menjalankan aktivitas sehari-hari, termasuk mitra pengemudi yang melayani kebutuhan mobilitas dan pengantaran,” ujar Melinda Savitri. Panduan yang disampaikan mencakup penggunaan masker, terutama jenis KN95, kacamata pelindung, pakaian tertutup, serta anjuran untuk segera membersihkan diri dan mengganti pakaian setelah beraktivitas. Pengemudi juga diminta untuk tidak mengucek mata apabila terkena abu dan meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi jalan.
Abu vulkanik dapat secara signifikan mengurangi jarak pandang dan membuat permukaan jalan menjadi lebih licin. Oleh karena itu, pengemudi sangat disarankan untuk mengurangi kecepatan, menjaga jarak aman, menyalakan lampu kendaraan, dan menghindari pengereman mendadak. Bagi pengendara roda dua, penggunaan helm full-face dengan visor tertutup sangat dianjurkan untuk meminimalkan paparan abu pada wajah dan mata.
Sementara itu, pengemudi roda empat disarankan untuk menggunakan mode sirkulasi udara dalam kabin, menyalakan lampu dekat atau lampu kabut saat jarak pandang menurun, serta membersihkan kaca dengan cairan pencuci sebelum menggunakan wiper untuk mencegah abu menggores permukaan kaca. Perlindungan juga diperlukan pada sektor makanan dan layanan pesan antar. Mitra merchant diminta untuk menjaga kebersihan area usaha dan stok makanan, mengemas pesanan secara rapat, serta menyediakan tempat tunggu yang lebih terlindung dari abu bagi para pengemudi.
Dampak abu vulkanik juga terlihat pada perubahan kebutuhan masyarakat. Data internal Grab Indonesia mencatat bahwa permintaan masker melalui layanan belanja daring meningkat hingga 24 kali lipat pada periode 5–8 September 2026, terutama di DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan Lampung. Lonjakan permintaan ini mengindikasikan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap alat perlindungan diri selama kualitas udara memburuk. Selain masker, kebutuhan akan vitamin dan produk kesehatan lainnya juga dilaporkan meningkat.
Masyarakat di wilayah terdampak abu vulkanik tetap diimbau untuk mengikuti arahan pemerintah dan otoritas kesehatan, serta membatasi aktivitas di luar ruangan jika tidak mendesak. Kelompok yang lebih rentan terhadap paparan abu, seperti anak-anak, lansia, dan penderita gangguan pernapasan, perlu mendapatkan perhatian ekstra selama kondisi udara belum membaik. Melinda Savitri menambahkan bahwa koordinasi dengan mitra merchant terus dilakukan untuk membantu menjaga ketersediaan produk kesehatan yang dibutuhkan masyarakat. Di tengah potensi perubahan aktivitas vulkanik, perlindungan pekerja lapangan dan akses masyarakat terhadap kebutuhan kesehatan menjadi komponen krusial dalam memitigasi dampak abu terhadap kesehatan dan keselamatan sehari-hari.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.