— JAKARTA – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) sedang mengarahkan Bank Syariah Nasional (BSN) untuk memperluas jangkauan bisnis pembiayaannya dengan memanfaatkan ekosistem dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, yaitu Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Strategi ini diharapkan menjadi motor penggerak utama pertumbuhan BSN pasca-proses spin-off dari BTN.

Direktur Utama BTN, Nixon L.P. Napitupulu, mengungkapkan bahwa sektor perbankan syariah nasional masih memiliki potensi pengembangan yang sangat luas. Menurutnya, BSN memiliki peluang besar untuk merambah basis ekosistem NU dan Muhammadiyah guna memperluas produk dan pembiayaan, termasuk kepada para guru yang bernaung di bawah kedua organisasi tersebut.

“Kita juga percaya bahwa spin-off ini akan memberikan keleluasaan bagi mereka untuk beli produk yang lebih luas lagi. Terutama kita dorong mereka melakukannya lewat ekosistem seperti Muhammadiyah, ekosistem NU, pemberian kredit kepada guru-guru NU, Muhammadiyah, dan sebagainya. Kan market-nya besar sekali,” ujar Nixon dalam acara Pubex Live 2026 pada Kamis (10/9/2026).

Nixon menilai bahwa pengembangan ekosistem ini berpotensi menjadi salah satu pilar krusial bagi pertumbuhan bisnis BSN di masa mendatang. Dengan potensi pasar perbankan syariah nasional yang signifikan, bank syariah ini juga memiliki peluang untuk menjadi pesaing kuat bagi PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) atau BSI.

Lebih lanjut, Nixon menyampaikan bahwa kinerja BSN saat ini menunjukkan hasil yang cukup positif. Dari segi cost of fund, BSN berhasil mencatat angka 2,7%, bahkan lebih rendah dibandingkan dengan induk usahanya, BTN. Sementara itu, rasio non-performing loan (NPL) BSN terpantau berada di bawah 3%. Kondisi ini mengindikasikan bahwa segmen syariah, khususnya pada segmen bawah, menunjukkan tingkat kedisiplinan yang baik dalam memenuhi kewajiban pembiayaan.

“Jadi segmen syariah yang di segmen bawah itu ternyata jauh lebih disiplin lah dibandingkan non-syariah. Nah ini kita juga sudah temukan itu sejak lama sebenarnya,” katanya.

Dalam konteks ini, Nixon melihat adanya ruang bagi BSN untuk meningkatkan skala bisnisnya pasca-spin-off. Industri perbankan syariah nasional dinilai masih menawarkan pasar yang besar, dengan BSN dan BSI sebagai dua pemain utama.

“Memang industri ini pemainnya bisa dibilang tinggal dua sih yang besar, yaitu BSN dan BSI. Jadi market-nya gede banget,” tuturnya.

Nixon menambahkan bahwa besarnya potensi pasar tersebut membuka peluang bagi BSN untuk terus berkembang dan memperkuat posisinya di industri perbankan syariah. Ia bahkan mengungkapkan bahwa BSN telah berhasil menduduki peringkat kedua dalam kurun waktu sekitar satu tahun, yang menurutnya membuktikan dominasi pasar yang selama ini terpusat pada satu perusahaan.

“Dan hanya dalam waktu satu tahun BSN udah nomor dua. Itu membuktikan market-nya memang very dominant di satu perusahaan selama ini,” katanya.

Dari sisi efisiensi, Nixon menyatakan bahwa kinerja BSN masih terjaga, termasuk dalam rasio cost to income. Kendati demikian, beberapa biaya operasional masih ditanggung bersama dengan BTN. Biaya tersebut meliputi penggunaan gedung dan sebagian biaya tenaga kerja untuk beberapa kepala unit yang masih ditugaskan oleh BTN.

Nixon menjelaskan bahwa biaya-biaya tersebut secara bertahap akan dibukukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Diperkirakan, tambahan beban tersebut tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap kinerja keuangan BSN.

“Memang masih ada beberapa cost yang masih sharing dengan kita (BTN) ya, seperti gedung dan beberapa kepala atau head unit yang kita assign dari induk ke mereka. Itu biaya tenaga kerjanya masih beberapa tapi udah gak banyak. Majority udah jadi beban mereka,” kata Nixon.

Nixon optimistis bahwa peningkatan skala bisnis BSN ke depan akan turut berkontribusi dalam memperbaiki tingkat efisiensi. Dengan skala bisnis yang semakin besar, biaya operasional yang ditanggung BSN diprediksi akan menjadi lebih efisien.