Jurnal Indonesia — JAKARTA – Harga emas global mengalami penurunan signifikan pada perdagangan Selasa (8/9/2026) waktu setempat. Tekanan terhadap komoditas logam mulia ini dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah yang kembali memicu kekhawatiran inflasi, serta ekspektasi kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed).
Harga emas spot tercatat jatuh 1,15% dan ditutup di level US$ 4.355,55 per ons troi. Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat (AS) untuk pengiriman Desember juga mengalami pelemahan, ambles 1,71% dan berakhir di US$ 4.400 per ons troi.
Senior Market Strategist StoneX, Daniel Pavilonis, menjelaskan bahwa pergerakan harga emas masih terbatas dan tertahan oleh probabilitas kenaikan suku bunga yang lebih tinggi. Hal ini, lanjutnya, terus menghambat momentum pasar untuk emas.
Tekanan pada emas terjadi beriringan dengan lonjakan harga minyak mentah. Harga minyak Brent tercatat mendekati US$ 100 per barel, bahkan sempat menyentuh US$ 99,46 per barel, yang merupakan level tertinggi sejak 24 Juli.
Kenaikan harga minyak mentah kembali menghidupkan kekhawatiran akan inflasi. Peningkatan biaya energi berpotensi mendorong kenaikan harga barang secara lebih luas. Kondisi ini dapat mendorong The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter ketatnya dalam jangka waktu yang lebih lama.
Sebelumnya, harga emas sempat anjlok hingga 2,4% pada perdagangan Jumat (4/9/2026). Penurunan tersebut terjadi setelah rilis data yang menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja di Amerika Serikat meningkat tajam pada Agustus, sementara tingkat pengangguran bertahan di 4,1%.
Data ketenagakerjaan yang solid ini mengindikasikan ketahanan ekonomi AS. Akibatnya, keyakinan pasar terhadap kemungkinan pelonggaran kebijakan moneter dalam waktu dekat menjadi berkurang.
Vice President sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals, Peter Grant, menyatakan bahwa pasar masih dalam proses menyerap dampak dari laporan ketenagakerjaan AS. Saat ini, pelaku pasar menantikan data inflasi terbaru.
Menurut Grant, kenaikan harga minyak turut memperkuat kekhawatiran inflasi dan secara tidak langsung mendukung ekspektasi kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed bulan September.
Suku Bunga The Fed dan Proyeksi Pasar
Berdasarkan data CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan kebijakan The Fed bulan September mencapai sekitar 60%. Angka ini meningkat dibandingkan perkiraan sekitar 50% sebelum rilis data ketenagakerjaan AS.
Selanjutnya, perhatian pasar akan tertuju pada data producer price index (PPI) Amerika Serikat yang dijadwalkan rilis pada Kamis (10/9/2026). Data ini akan diikuti oleh rilis data consumer price index (CPI) pada Jumat (11/9/2026).
Kedua data inflasi tersebut akan menjadi penentu penting bagi arah kebijakan The Fed ke depan, sekaligus memengaruhi pergerakan harga emas selanjutnya.
Secara umum, emas dipandang sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi. Namun, kenaikan suku bunga cenderung mengurangi daya tarik logam mulia ini karena emas tidak memberikan imbal hasil.
Pelemahan juga terjadi pada logam mulia lainnya. Harga perak tercatat turun 0,64% menjadi US$ 65,75 per ons. Sementara itu, harga platinum melemah 0,21% menjadi US$ 1.819,33 per ons. Di sisi lain, harga paladium mengalami penurunan tajam sebesar 2,7% dan ditutup di level US$ 1.353,61 per ons.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.