— Harga emas menguat pada perdagangan Selasa (8/9/2026) pagi, ditopang oleh pelemahan nilai dolar Amerika Serikat. Namun, kenaikan ini masih dibayangi oleh ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed, yang sangat bergantung pada data inflasi AS mendatang.

Pada saat berita ditulis, harga emas tercatat naik 0,43% menjadi US$ 4.425,41 per ons troi. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember 2026 mengalami sedikit penurunan 0,14% ke level US$ 4.470,8 per ons troi.

Indeks dolar AS terpantau melemah 0,36% ke angka 98,8. Pelemahan mata uang Paman Sam ini membuat emas, yang dihargai dalam dolar, menjadi lebih terjangkau bagi investor dengan mata uang lain, sehingga turut mendorong permintaan terhadap logam mulia ini.

Saat ini, pasar tengah menantikan rilis serangkaian data inflasi Amerika Serikat. Data ini diharapkan dapat memberikan petunjuk yang lebih jelas mengenai langkah kebijakan moneter yang akan diambil oleh The Fed dalam pertemuan mereka pekan depan.

Data producer price index (PPI) AS dijadwalkan akan dirilis pada Kamis (10/9/2026), diikuti oleh data consumer price index (CPI) pada Jumat (11/9/2026).

Data inflasi ini menjadi krusial, terutama setelah laporan ketenagakerjaan AS menunjukkan peningkatan jumlah lapangan kerja yang signifikan pada bulan Agustus, sementara tingkat pengangguran tetap bertahan di angka 4,1%. Kondisi ini sempat memberikan tekanan pada harga emas pada 4 September lalu.

Berdasarkan data CME FedWatch Tool, pelaku pasar saat ini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga acuan oleh The Fed pada pertemuan pekan depan mencapai sekitar 60%.

Perlu diketahui, suku bunga yang lebih tinggi umumnya memberikan tekanan pada harga emas karena logam mulia ini tidak menghasilkan imbal hasil. Sebaliknya, ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter biasanya akan meningkatkan daya tarik emas sebagai aset safe haven atau lindung nilai.

Geopolitik Jadi Sorotan

Di sisi lain, Deutsche Bank memperkirakan European Central Bank (ECB) akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember, menyusul kenaikan yang mungkin terjadi pada September. Persistensi risiko energi dinilai masih memberikan tekanan terhadap prospek inflasi di kawasan Eropa.

Selain faktor kebijakan moneter, ketegangan geopolitik juga menjadi perhatian serius di pasar emas. Iran telah mengancam akan melakukan pembalasan jika Amerika Serikat melancarkan serangan baru terhadap aset-asetnya.

Iran memperingatkan bahwa infrastruktur energi di kawasan Teluk, termasuk kepentingan minyak dan gas AS, berada dalam posisi yang rentan. Risiko eskalasi konflik ini berpotensi meningkatkan permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai.

Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot dilaporkan naik 0,7% menjadi US$ 66,63 per ons. Platinum menguat 0,19% ke level US$ 1.827 per ons, sedangkan palladium juga mencatat kenaikan 0,29% menjadi US$ 1.394,4 per ons.