Jurnal Indonesia — Goldman Sachs memprediksi harga minyak dunia berisiko melonjak hingga menyentuh US$ 120 per barel jika serangan terhadap kawasan pelayaran di Timur Tengah terus meningkat. Analis komoditas global di Goldman Sachs, Daan Struyven, menyatakan bahwa peristiwa dalam beberapa hari terakhir mengindikasikan risiko yang meluas dan peningkatan gangguan pelayaran yang signifikan.
Meskipun demikian, bank investasi tersebut juga memproyeksikan harga minyak dapat turun ke level US$ 80 per barel apabila ekspor dari kawasan Timur Tengah kembali normal. Prediksi ini muncul di tengah kenaikan harga minyak mentah dunia yang menembus level tertinggi dalam enam pekan pada perdagangan Selasa (8/9/2026).
Kenaikan harga dipicu oleh serangan kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap fasilitas energi Arab Saudi. Insiden ini meningkatkan kekhawatiran mengenai potensi gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah. Berdasarkan laporan Reuters, harga minyak Brent tercatat naik 0,9% menjadi US$ 97,92 per barel, sementara harga minyak West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat melesat 1,7% ke angka US$ 93,03 per barel.
Dengan kenaikan tersebut, kedua harga acuan minyak kini berada di wilayah overbought secara teknikal. Harga penutupan Brent menjadi yang tertinggi sejak 23 Juli selama dua hari berturut-turut, sedangkan WTI mencatat level penutupan tertinggi sejak 4 Juni.
Situasi ini menambah daftar gangguan pasokan minyak dari kawasan Teluk yang telah terjadi sejak Iran menyerang infrastruktur energi di wilayah tersebut dan kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Sebelumnya, serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari 2026 juga telah memengaruhi stabilitas pasokan.
Arab Saudi, sebagai produsen minyak mentah terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat, dilaporkan telah mengambil langkah untuk menghindari Selat Hormuz dengan mengirimkan minyak melalui jalur barat menuju Laut Merah.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.