Jurnal Indonesia — Harga Bitcoin (BTC) mengalami pelemahan signifikan, anjlok ke level US$ 76.000 pada perdagangan Jumat (11/9/2026) pagi. Penurunan ini terjadi di tengah memburuknya sentimen terhadap aset berisiko, yang dipicu oleh kenaikan harga minyak, data inflasi produsen Amerika Serikat yang lebih tinggi dari perkiraan, serta lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Berdasarkan data CoinMarketCap pukul 07.40 WIB, harga Bitcoin (BTC) tercatat jatuh 1,76% menjadi US$ 76.745 per koin, setara dengan sekitar Rp 1,35 miliar jika menggunakan kurs Rp 17.592 per dolar AS. Kapitalisasi pasar kripto global pun ikut tergerus 1,7% dalam 24 jam terakhir, mencapai US$ 2,61 triliun. Indeks CoinDesk 20, yang mengukur kinerja 20 aset kripto terbesar, juga ambles 2,07%.
Pelemahan juga terlihat pada aset kripto lainnya. Harga Ethereum (ETH) melemah 0,63% menjadi US$ 2.444, sementara Binance Coin (BNB) terpangkas 1,51% ke US$ 710. Dikutip dari CoinTelegraph, koreksi harga Bitcoin (BTC) sejalan dengan pergerakan saham-saham AS, yang juga tertekan oleh lonjakan harga minyak, inflasi yang masih tinggi, dan kenaikan imbal hasil obligasi.
Imbal Hasil Obligasi AS Memicu Tekanan
Salah satu faktor utama yang menekan pasar adalah kondisi di pasar obligasi AS. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun melonjak hingga 5,353%, menandai level tertinggi sejak Juni 2007. Sementara itu, yield obligasi AS 10 tahun mencapai 4,924%, level tertinggi sejak November 2023.
Kenaikan yield ini terjadi meskipun Departemen Keuangan AS telah menjalankan operasi pembelian kembali obligasi senilai US$6 miliar. Situasi ini mengindikasikan bahwa pasar obligasi masih menghadapi tekanan kuat, terutama akibat kekhawatiran inflasi yang berkelanjutan dan tingginya kebutuhan pembiayaan pemerintah. Kenaikan biaya pinjaman secara umum berpotensi menekan aset berisiko seperti Bitcoin, karena investor cenderung mengalihkan dana mereka ke instrumen yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.
Inflasi AS Membebani Sentimen Pasar
Tekanan tambahan datang dari data Producer Price Index (PPI) AS untuk bulan Agustus. Inflasi produsen tercatat mencapai 5,4% secara tahunan, atau 0,1 poin persentase lebih tinggi dari ekspektasi pasar. PPI inti, yang mengecualikan komponen makanan, energi, dan jasa perdagangan, naik 0,3% pada Agustus setelah peningkatan 0,4% pada Juli. Secara tahunan, komponen ini naik 4,7%.
Data inflasi yang lebih panas dari perkiraan ini memperkuat kekhawatiran bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan kebijakan moneter ketatnya. Berdasarkan data CME Group FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada rapat The Fed tanggal 16 September mencapai 69,8%, meningkat dari 61,2% sehari sebelumnya. Ekspektasi kenaikan suku bunga menjadi beban tambahan bagi Bitcoin, yang selama ini dikenal sensitif terhadap perubahan likuiditas dan selera risiko global.
Harga Minyak Mentah Memperburuk Keadaan
Kenaikan harga minyak dunia, yang dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah, turut memperburuk sentimen pasar secara keseluruhan. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kembali menembus US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei, sementara Brent melampaui US$105 per barel.
Lonjakan harga energi ini meningkatkan risiko inflasi, yang berpotensi mendorong bank sentral untuk mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama. Pasar saat ini juga menantikan rilis data Consumer Price Index (CPI) AS untuk bulan Agustus, yang dijadwalkan pada Jumat (11/9/2026). Data ini menjadi salah satu indikator penting terakhir sebelum keputusan suku bunga The Fed pekan depan.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.