— Harga emas dan perak dunia mengalami kenaikan pada perdagangan Jumat, didorong oleh rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang menunjukkan pelemahan. Data ini secara bersamaan menekan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan melemahkan nilai dollar AS, yang pada gilirannya meningkatkan daya tarik logam mulia sebagai aset investasi.

Berdasarkan data Kitco NewsWire pada Sabtu (8/8/2026), harga emas spot diperdagangkan di kisaran 4.340,60 dollar AS per troy ounce pada Jumat (7/8/2026) waktu setempat, mencatat kenaikan sebesar 2,39 persen. Sementara itu, harga perak spot menyentuh level 63,350 dollar AS per ounce, menguat 3,19 persen.

Lonjakan harga logam mulia ini terjadi setelah laporan ketenagakerjaan AS untuk bulan Juli 2026 menunjukkan penurunan jumlah nonfarm payrolls sebanyak 23.000. Tingkat pengangguran dilaporkan bertahan di angka 4,1 persen. Data ini kembali memicu perhitungan pasar mengenai arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed), terutama pasca keputusan bank sentral AS pada 29 Juli 2026.

Pada pertemuan tersebut, Federal Open Market Committee (FOMC) mempertahankan kisaran target suku bunga di 3,50 persen hingga 3,75 persen dengan hasil pemungutan suara 9-3. Ketua The Fed, Kevin Warsh, dalam konferensi pers pasca-pertemuan kembali menegaskan mandat bank sentral AS dalam menjaga inflasi. “Hanya ada satu target,” ujar Warsh. Namun, setelah data tenaga kerja Juli 2026 dirilis lebih lemah dari perkiraan pasar, tekanan terhadap The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga pada September menjadi mereda.

Yield Obligasi AS Turun

Pelemahan data tenaga kerja AS segera tercermin di pasar obligasi. Imbal hasil obligasi pemerintah AS dengan tenor 10 tahun dilaporkan turun menjadi 4,64 persen dari 4,67 persen sesaat sebelum data ketenagakerjaan dirilis. Imbal hasil ini bahkan sempat menyentuh 4,60 persen dalam perdagangan intraday.

Penurunan yield obligasi menjadi salah satu faktor pendukung penguatan harga emas. Logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil berupa bunga menjadi relatif lebih menarik ketika imbal hasil aset berbunga seperti obligasi pemerintah AS mengalami penurunan. Selain itu, pelemahan dollar AS juga turut memberikan dorongan terhadap harga emas yang diperdagangkan dalam mata uang tersebut.

Kitco mencatat indeks dollar AS melemah pasca laporan ketenagakerjaan dirilis. Kondisi ini menurunkan hambatan bagi investor yang menggunakan mata uang selain dollar AS untuk melakukan pembelian emas. Pergerakan ini menunjukkan bahwa perdagangan logam mulia kembali dipengaruhi oleh ekspektasi terhadap suku bunga AS.

Bursa Saham AS dan Eropa Menguat

Data tenaga kerja yang lebih lemah ternyata tidak serta-merta menekan pasar saham AS. Sebaliknya, investor menilai bahwa pasar tenaga kerja yang melemah dapat membatasi pengetatan kebijakan moneter The Fed dalam jangka pendek.

Di Amerika Utara, indeks S&P 500 naik 0,6 persen menjadi 7.757,64. Dow Jones Industrial Average menguat 0,3 persen ke level 54.036,93, sementara Nasdaq Composite tercatat naik 1,3 persen menjadi 26.690,62. ETF Russell 2000 naik 1,08 persen, ETF S&P 500 menguat 0,59 persen, ETF Dow Jones naik 0,25 persen, dan ETF Nasdaq 100 bertambah 1,17 persen.

Penguatan juga terlihat di sejumlah bursa saham Eropa. STOXX Europe 600 ditutup naik 0,31 persen ke angka 660,25. FTSE 100 Inggris menguat 0,31 persen menjadi 10.901,09, sedangkan DAX Jerman naik 0,69 persen ke 26.319,45. CAC 40 Perancis menguat 0,17 persen menjadi 8.714,93, dan FTSE MIB Italia bertambah 0,06 persen ke 53.717,19. IBEX 35 Spanyol menjadi satu-satunya pengecualian dengan penurunan tipis 0,02 persen menjadi 20.176,00.

Intervensi Yen Jepang dan Faktor Geopolitik

Selain data tenaga kerja AS, perkembangan di pasar valuta asing juga menjadi perhatian dalam pergerakan harga emas. Intervensi terhadap yen Jepang yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Jepang dinilai telah berkembang menjadi faktor yang lebih luas bagi pasar valuta asing, tidak hanya terbatas pada isu Jepang.

Bagi emas, perkembangan ini memberikan dukungan melalui dua saluran. Pertama, pelemahan dollar AS secara mekanis menurunkan hambatan bagi harga emas yang dihitung dalam dollar AS. Kedua, tindakan resmi pemerintah dalam pasar valuta asing dapat meningkatkan permintaan terhadap aset lindung nilai berupa cadangan dan likuiditas.

Namun, terdapat faktor yang dapat membatasi dampak intervensi ini terhadap emas. Intervensi tersebut belum sepenuhnya menghilangkan perbedaan tingkat suku bunga antara AS dan Jepang. Oleh karena itu, pengaruhnya terhadap emas masih bergantung pada apakah penguatan yen Jepang akan berkembang menjadi pelemahan dollar AS yang lebih berkelanjutan.

Faktor geopolitik juga masih menjadi perhatian pasar emas, minyak, dan suku bunga, terutama perkembangan di Selat Hormuz. Pembicaraan yang ditujukan untuk membuka kembali jalur perdagangan di selat tersebut sempat menekan harga minyak pada awal pekan. Namun, hingga penutupan perdagangan AS, belum ada kesepakatan final yang ditandatangani karena sejumlah persoalan masih menjadi ganjalan.

Kondisi ini membuat premi risiko geopolitik di pasar menjadi lebih rendah dibandingkan ketika gangguan mencapai puncaknya, namun situasi tersebut belum dapat dianggap sepenuhnya selesai. Untuk emas, dukungan pada perdagangan Jumat lebih banyak berasal dari penurunan yield obligasi dan pelemahan dollar AS dibandingkan permintaan aset safe haven akibat risiko geopolitik. Sementara itu, harga minyak masih mendapatkan dukungan dari risiko pasokan menjelang akhir pekan.

Level Harga Emas dan Perak yang Perlu Diperhatikan

Dari sisi teknikal, Kitco mencatat level harga tertentu yang menjadi perhatian pelaku pasar emas. Untuk skenario kenaikan, target harga berikutnya bagi pasar bullish adalah membawa harga emas kembali melewati zona resistance 4.360 dollar AS hingga 4.380 dollar AS per troy ounce. Jika mampu bergerak berkelanjutan melewati zona tersebut, target berikutnya berada di 4.480 dollar AS dan kemudian 4.500 dollar AS per troy ounce.

Sementara itu, dari sisi bearish, target penurunan jangka pendek berikutnya adalah apabila harga menembus level 4.300 dollar AS. Jika tekanan berlanjut, target berikutnya berada di 4.200 dollar AS dan kemudian sekitar 4.180 dollar AS per troy ounce. Resistance pertama berada di 4.360 dollar AS dan selanjutnya 4.380 dollar AS. Untuk support, level pertama berada di 4.300 dollar AS, kemudian 4.200 dollar AS.

Pergerakan harga perak juga menunjukkan penguatan yang cukup besar, dengan harga perak spot naik 3,19 persen menjadi sekitar 63,350 dollar AS per ounce. Untuk perak, target kenaikan berikutnya bagi pasar bullish adalah membawa harga kembali melewati area 65 dollar AS hingga 66 dollar AS per ounce. Jika harga mampu menembus zona tersebut, target berikutnya berada di sekitar 71 dollar AS per ounce.

Sebaliknya, untuk skenario penurunan, target berikutnya bagi pasar bearish adalah apabila harga menembus level 61 dollar AS per ounce. Tekanan yang lebih dalam dapat membawa harga menuju 60 dollar AS dan kemudian area 56 dollar AS hingga 57 dollar AS per ounce. Level resistance pertama perak berada di 65 dollar AS dan kemudian 66 dollar AS. Sementara itu, support berikutnya berada di 61 dollar AS dan 60 dollar AS per ounce.

Dengan demikian, pergerakan harga emas dan perak pada perdagangan Jumat berlangsung di tengah perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga AS setelah data tenaga kerja Juli menunjukkan pelemahan.