Jurnal Indonesia — Harga emas global kini berada di titik krusial setelah mengalami koreksi tajam dari reli yang terjadi pada bulan Agustus. Pergerakan emas saat ini menunjukkan stabilitas di area support, namun arah pergerakannya ke depan akan sangat bergantung pada kemampuannya bertahan di level teknikal yang penting, serta bagaimana pasar merespons data inflasi Amerika Serikat (AS).
Pada Jumat pagi, 11 September 2026, harga emas tercatat naik tipis 0,08% menjadi US$ 4.319,6 per ons troi. Kenaikan ini terjadi setelah pada perdagangan Kamis, 10 September 2026, harga emas spot ditutup anjlok 1,94% ke level US$ 4.316,76 per ons troi.
Michael Boutros, Senior Technical Strategist di Forex.com, menyatakan bahwa harga emas saat ini bergerak tepat di atas zona support penting yang berada di kisaran US$ 4.305–4.319 per ons troi. “Zona tersebut menjadi area penting karena merupakan pertemuan retracement 38,2% dari penurunan April, retracement 50% dari reli Juni, serta level pembukaan 2026,” ungkap Boutros dalam analisisnya pada Jumat (11/9/2026).
Boutros menjelaskan bahwa emas sebelumnya berhasil mencatat reli lebih dari 19,1% dari titik terendahnya tahun ini setelah berhasil menembus pola konsolidasi yang berlangsung selama beberapa bulan. Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama dan emas kemudian terkoreksi lebih dari 8,8% sebelum akhirnya menemukan pijakan di sekitar area support yang sedang diuji saat ini.
Menurut Boutros, jika emas gagal mempertahankan level US$ 4.305–4.319 per ons troi, terdapat potensi harga untuk turun lebih lanjut menuju US$ 4.230 per ons troi. Level ini dianggap sebagai batas krusial untuk menjaga agar tren kenaikan yang telah berlangsung sejak bulan Juli tetap terjaga. “Kerugian perlu dibatasi hingga US$ 4.230 per ons troi agar tren naik sejak Juli tetap layak dipertahankan,” tegas Boutros.
Jika emas berhasil ditembus dan mencatat penutupan harian di bawah US$ 4.230, risiko pembalikan tren yang lebih besar akan meningkat. Level support berikutnya yang perlu diwaspadai berada di US$ 4.165, diikuti oleh US$ 4.097.
Sebaliknya, peluang emas untuk kembali menguat masih terbuka lebar apabila mampu menembus level resistance. Boutros mengidentifikasi resistance terdekat berada di US$ 4.448 per ons troi, diikuti oleh area US$ 4.507–4.537 per ons troi. Area ini bertepatan dengan beberapa indikator teknikal penting, termasuk retracement 38,2% dari penurunan bulan Maret, retracement 61,8% dari penurunan bulan April, high-day close (HDC) 2025, serta moving average 200 hari.
Sinyal Bullish Emas
Boutros menegaskan bahwa penembusan dan penutupan harian di atas level US$ 4.507–4.537 per ons troi akan menjadi sinyal bullish yang kuat. Hal ini juga akan membuka peluang bagi emas untuk melanjutkan tren kenaikan yang telah dimulai sejak bulan Juli. “Jika berhasil melewati area tersebut, target berikutnya berada di US$ 4.658 per ons troi, kemudian US$ 4.716 per ons troi,” tambah Boutros.
Selain level teknikal, perhatian pasar saat ini tertuju pada data Consumer Price Index (CPI) AS untuk bulan Agustus yang dijadwalkan rilis hari ini. Data ini merupakan salah satu indikator kunci yang akan memengaruhi arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).
Pasar juga tengah bersiap menghadapi pertemuan The Fed yang akan diselenggarakan pada 15–16 September 2026. Ekspektasi kenaikan suku bunga telah meningkat, terutama setelah data Producer Price Index (PPI) AS menunjukkan adanya tekanan inflasi yang lebih tinggi.
Boutros mencatat bahwa pasar futures saat ini memperkirakan probabilitas sekitar 72% untuk kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed pekan depan. Jika data CPI yang dirilis lebih tinggi dari perkiraan, ekspektasi pengetatan moneter berpotensi menguat. Hal ini dapat mendorong imbal hasil obligasi AS dan dolar AS, yang pada gilirannya akan menekan harga emas. Sebaliknya, jika inflasi yang dilaporkan lebih rendah, hal tersebut dapat membantu emas kembali menemukan kestabilan.
Pelaku pasar juga akan mencermati data penjualan ritel AS untuk bulan Agustus, yang dijadwalkan akan dirilis pada 16 September mendatang.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.