— Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan pada perdagangan sesi I Rabu (9/9/2026). Penurunan ini terjadi seiring dengan pelemahan bursa regional Asia yang dipicu oleh lonjakan harga minyak dunia. Kenaikan harga energi ini menimbulkan kekhawatiran akan inflasi yang lebih tinggi dan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga oleh The Fed.

Pada sesi I, IHSG tercatat turun sebanyak 38,95 poin atau 0,58% ke level 6.647.

Pilarmas Investindo Sekuritas mengidentifikasi kenaikan harga minyak yang kembali mendekati level US$ 100 per barel sebagai sentimen utama yang membebani pasar saat ini. “Harga energi yang semakin tinggi berpotensi meningkatkan tekanan inflasi sehingga ruang pelonggaran kebijakan moneter bank sentral menjadi semakin terbatas,” tulis Pilarmas dalam risetnya pada Rabu (9/9/2026).

Kenaikan harga minyak dunia dipicu oleh penghancuran lima kapal tanker minyak mentah Iran oleh pasukan Amerika Serikat (AS) di dekat Pulau Kharg. Serangan ini merupakan balasan atas upaya serangan rudal terhadap kapal perang AS. Menteri Luar Negeri AS menegaskan bahwa Washington akan terus menyerang kapal tanker minyak Iran sebagai respons terhadap upaya serangan terhadap kapal perang AS.

Ketegangan semakin meningkat pasca serangan kelompok Houthi, pendukung Iran, ke wilayah selatan Arab Saudi. Eskalasi ini memicu kekhawatiran meluasnya konflik antara AS dan Iran, yang berpotensi mengganggu pasokan minyak global. Iran juga dilaporkan meluncurkan rudal balistik ke arah Yordania dan memberikan peringatan kepada kapal-kapal di Teluk Persia, termasuk awak kapal tanker di sekitar pelabuhan Kuwait dan Bahrain.

“Kondisi tersebut membuat pelaku pasar semakin mencermati risiko gangguan pasokan energi, terutama jika eskalasi konflik meluas ke jalur distribusi minyak utama,” tambah Pilarmas.

Selain perkembangan geopolitik, Pilarmas menambahkan bahwa perhatian pasar juga tertuju pada data inflasi AS yang akan dirilis pekan ini. Data ini dianggap sebagai petunjuk penting bagi pelaku pasar dalam memperkirakan arah kebijakan The Fed menjelang pertemuan bank sentral AS pekan depan. “Kenaikan harga minyak berpotensi memperbesar tekanan inflasi. Jika inflasi kembali meningkat, ekspektasi suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama dapat menguat dan memberikan tekanan tambahan terhadap aset berisiko, termasuk saham,” papar Pilarmas.

Kondisi ini diperparah dengan perkiraan pengetatan kebijakan moneter oleh Bank Sentral Eropa dan Bank Jepang pada bulan ini, yang membuat prospek suku bunga global menjadi perhatian utama pasar.

China Jadi Sorotan

Dari China, Pilarmas melaporkan bahwa inflasi konsumen tahunan meningkat menjadi 0,8% pada Agustus 2026, naik dari 0,5% pada Juli, sesuai dengan perkiraan pasar. Sementara itu, inflasi harga produsen meningkat menjadi 3,8% dari 3,5% pada bulan sebelumnya, sedikit di atas ekspektasi pasar sebesar 3,7%. “Kenaikan inflasi terutama didorong oleh meningkatnya biaya energi di tengah ketegangan yang masih berlangsung di Timur Tengah,” jelas Pilarmas.

Meskipun China telah keluar dari periode deflasi yang berkepanjangan, permintaan konsumen yang masih lemah membatasi kemampuan perusahaan untuk meneruskan kenaikan biaya kepada rumah tangga. Kondisi ini terjadi di tengah perlambatan ekonomi dan dukungan fiskal yang semakin terkendali.

Dari dalam negeri, Pilarmas menyatakan bahwa tekanan eksternal menjadi faktor utama yang membayangi pergerakan IHSG. Namun, sentimen konsumsi domestik masih menunjukkan kondisi positif. Bank Indonesia (BI) mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Agustus 2026 sebesar 118,5, meningkat dibandingkan 116,8 pada bulan sebelumnya. “Kenaikan tersebut menunjukkan keyakinan konsumen masih berada di zona optimistis dan menjadi salah satu penopang ekonomi domestik di tengah tekanan dari pasar global,” jelas Pilarmas.

Di tengah pelemahan IHSG, beberapa saham justru menunjukkan pergerakan positif dan masuk jajaran top gainers pada sesi I. Saham POLA mencatat kenaikan terbesar, diikuti oleh DPUM, MGNA, MSJA, dan AKSI. Sebaliknya, saham yang mengalami penurunan terbesar antara lain MEDS, MDIA, GTBO, URBN, dan FORU.

Pilarmas merekomendasikan aksi beli untuk saham BIPI dengan level support 152 dan resistance 174.