— Meningkatnya perhatian terhadap penyakit saluran pernapasan, termasuk yang disebabkan oleh paparan abu vulkanik dan faktor lingkungan lainnya, telah mendorong kebutuhan akan layanan diagnostik yang mampu mengidentifikasi penyebab infeksi secara lebih cepat dan akurat. Kondisi ini menjadi tantangan bagi tenaga kesehatan dalam membedakan gangguan pernapasan akibat iritasi partikel dengan gejala yang disebabkan oleh infeksi virus maupun bakteri.

Pemeriksaan molekular, seperti Polymerase Chain Reaction (PCR) dan rapid molecular Point-of-Care Testing (POCT), menawarkan solusi untuk membantu proses identifikasi patogen berdasarkan panel pemeriksaan yang tersedia. Menjawab kebutuhan ini, PT UBC Medical Indonesia Tbk (LABS) melihat peluang besar untuk mengembangkan ekosistem diagnostik molekular di dalam negeri.

Perseroan tidak hanya berfokus pada distribusi alat kesehatan dan solusi diagnostik, tetapi juga mulai memperluas perannya melalui kolaborasi teknologi. Direktur Operasional LABS, Yudha, menjelaskan bahwa perseroan melalui anak usahanya, PT Esora Medika Indonesia, telah menjalin kerja sama dengan sejumlah principal dan perusahaan teknologi diagnostik internasional.

“LABS melihat perkembangan kebutuhan tersebut sebagai bagian dari peluang untuk memperkuat ekosistem diagnostik molekular di Indonesia. Selain menjalankan kegiatan distribusi alat kesehatan dan solusi diagnostik, LABS melalui anak perusahaannya, PT Esora Medika Indonesia, sudah mengembangkan kerja sama dengan principal dan perusahaan teknologi diagnostik internasional,” ujar Yudha dalam keterangan tertulis, Selasa (8/9/2026).

Yudha menambahkan, kerja sama tersebut diarahkan untuk menghadirkan sekaligus mengembangkan teknologi PCR dan POCT yang dapat diproduksi dan dikembangkan di Indonesia. Langkah ini sejalan dengan potensi pasar layanan kesehatan Indonesia yang relatif besar dan kebutuhan diagnostik yang terus berkembang.

Penguatan ekosistem domestik dinilai tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan produk, tetapi juga mencakup kolaborasi teknologi, pengembangan produk, serta peningkatan kapasitas produksi. Dengan pendekatan ini, pengembangan diagnostik molekular di dalam negeri berpotensi memperluas akses terhadap teknologi pemeriksaan sekaligus mengurangi ketergantungan pada produk yang sepenuhnya berasal dari luar negeri.

Meningkatnya kewaspadaan terhadap penyakit pernapasan akibat faktor lingkungan, termasuk paparan abu vulkanik, menjadi salah satu contoh pentingnya kesiapan infrastruktur diagnostik. Bagi LABS, perkembangan kebutuhan tersebut menjadi ruang untuk memperkuat kolaborasi di bidang diagnostik molekular melalui PT Esora Medika Indonesia. Pengembangan ekosistem ini juga dapat berkontribusi dalam memperluas pemanfaatan teknologi diagnostik di fasilitas layanan kesehatan, seiring dengan meningkatnya kebutuhan akan pemeriksaan yang lebih cepat dan spesifik.