— JAKARTA – Penampilan tim nasional Argentina dalam laga final Piala Dunia 2026 menuai kritik tajam dari dua mantan pemain legendaris Manchester United, Paul Scholes dan Nicky Butt. Keduanya menilai permainan Tim Tango di partai puncak tersebut sangat memalukan, terutama terkait insiden keributan yang terjadi.

Argentina harus mengakui keunggulan Spanyol dengan skor 0-1 di pertandingan final. Namun, selain jalannya pertandingan, aksi kontroversial beberapa pemain Argentina menjadi sorotan. Insiden seperti tekel kasar Enzo Fernandez, aksi Leandro Paredes yang mencengkeram dan mendorong Gavi, serta tindakan Nahuel Molina yang memukul dada Rodri setelah peluit akhir berbunyi, menjadi bahan perdebatan.

Paul Scholes secara tegas menyatakan kekecewaannya. “Argentina memalukan. Mereka ribut-ribut di laga final,” ujar Scholes dalam podcast The Good, The Bad & The Football.

Nicky Butt menambahkan kritiknya, menyoroti insiden spesifik yang melibatkan Nahuel Molina. “Apalagi ketika ada pemain yang memukul dada Rodri,” timpal Butt. “Saya pernah ribut-ribut di lapangan, ditekel, ditendang, ditampar. Tapi ketika ada pemain yang berlari di depannya lalu dipukul dadanya, itu sangat pengecut,” lanjut Butt mengomentari aksi Molina.

Kedua legenda United tersebut berpandangan bahwa permainan keras Argentina, yang mereka sebut sebagai ‘dark art’ dalam sepak bola, telah menimbulkan banyak kontroversi. Mereka bahkan berpendapat bahwa jika bukan karena kehadiran sosok Lionel Messi yang dicintai banyak orang, Tim Tango bisa saja menjadi tim yang paling dibenci.

“Jika tiada Messi di tim mereka, mereka akan jadi tim yang paling dibenci,” sindir Butt.

Scholes menutup komentarnya dengan penegasan, “Argentina seharusnya bisa memainkan sepakbola yang baik, tapi mereka justru memalukan dan buruk di laga final.”