— Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP TUNAS) mendorong upaya memperkuat keamanan anak dan remaja di ruang digital. Sejumlah platform digital menanggapi regulasi tersebut dengan menguatkan fitur perlindungan bagi pengguna usia muda.

Salah satu contoh implementasi adalah langkah Meta yang menyesuaikan layanan Instagram, Facebook, dan Threads untuk mematuhi aturan nasional dan membangun ekosistem digital yang lebih aman bagi remaja.

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengatakan pihaknya mengapresiasi kepatuhan Meta. “Hari ini kami memberikan apresiasi kepada Meta yang menaungi Instagram, Facebook, dan Threads karena telah menyelaraskan fitur dan layanan mereka dengan hukum di Indonesia,” ujarnya.

Menurut Meutya, kepatuhan tersebut telah diverifikasi dan disampaikan secara resmi oleh perwakilan hukum serta pimpinan kebijakan publik regional Asia Pasifik. “Kepatuhan tersebut sudah kami verifikasi. Ini menunjukkan bahwa penyesuaian bukan persoalan teknis, tetapi soal komitmen platform untuk melindungi anak dan menghormati hukum nasional,” tegasnya.

Fitur Teen Accounts

Meta memperkenalkan Teen Accounts di Instagram dengan sejumlah perlindungan yang aktif secara bawaan untuk pengguna remaja. Salah satu pengaturan utama adalah akun privat secara default, sehingga unggahan dan interaksi hanya dapat diakses oleh orang-orang tertentu.

Kontrol pesan juga diperketat: remaja hanya dapat menerima pesan dari akun yang sudah mereka ikuti atau pernah terhubung sebelumnya. Langkah ini dimaksudkan untuk mengurangi interaksi tak diinginkan dari pihak asing.

Sensitivitas konten diatur pada tingkat perlindungan tertinggi secara otomatis melalui fitur Sensitive Content Control. Pengaturan ini membatasi paparan konten yang berpotensi sensitif atau tidak sesuai usia pada rekomendasi seperti Explore dan Reels.

Juru bicara Meta, Esther Samboh, menyatakan tujuan pengaturan tersebut adalah memberi ruang bagi remaja untuk berkarya dan mencari inspirasi tanpa terekspos konten yang belum sesuai umur. “Dengan mengaktifkan Sensitive Content Control pada tingkat paling ketat secara otomatis, kami menciptakan jaring pengaman agar pengalaman eksplorasi mereka tetap positif dan aman,” kata Esther.

Perlindungan lain meliputi pembatasan kemampuan menandai (tag) atau menyebut (mention) yang hanya diperkenankan dari akun yang diikuti remaja. Fitur anti-perundungan seperti Hidden Words juga diaktifkan secara otomatis.

Batas Waktu dan Mode Istirahat

Akun remaja dilengkapi pengingat pemakaian dan fitur kesejahteraan digital. Pengguna akan menerima pengingat setelah menggunakan Instagram atau Threads selama 60 menit dalam sehari.

Selain itu, Sleep Mode diaktifkan otomatis mulai pukul 22.00 hingga 07.00 waktu setempat. Pada periode ini, notifikasi dibisukan dan pesan langsung mendapat balasan otomatis.

Bagi pengguna di bawah 16 tahun, beberapa tindakan memerlukan persetujuan orang tua, seperti melakukan siaran langsung, menonaktifkan proteksi terhadap gambar bernuansa nudity di Direct Message, serta mengubah pengaturan keamanan bawaan.

Peran Orang Tua dan Sumber Daya Pendukung

Meta menyediakan Family Center sebagai sumber daya bagi orang tua. Pusat informasi ini memuat panduan mengenai Teen Accounts, fitur pengawasan, panduan percakapan keluarga, dan materi kesejahteraan digital.

Family Center dirancang untuk membantu membangun komunikasi antara orang tua dan remaja, bukan sekadar alat pemantauan. Pendekatan ini diharapkan memfasilitasi dialog keluarga mengenai pengalaman dan tantangan di dunia digital.

Associate Professor Rachel Rodgers dari Northeastern University menilai perkembangan kebijakan untuk melindungi remaja penting agar media sosial menjadi ruang yang sesuai dengan tahap perkembangan mereka. “Perubahan ini juga menjadi kesempatan baik bagi orang tua untuk berdiskusi dengan anak mengenai cara menyikapi berbagai topik yang menantang di dunia digital,” ujarnya.

Kesimpulannya, penciptaan pengalaman digital yang lebih aman bagi remaja membutuhkan kolaborasi antara platform, pemerintah, sekolah, komunitas, dan keluarga. Sinergi antara perlindungan teknologi dan pendampingan di rumah diharapkan memperkuat kemampuan remaja untuk bertumbuh sehat di era digital.