Jurnal Indonesia — Tantangan industri pangan Indonesia tidak hanya sebatas ketersediaan pasokan, tetapi juga efisiensi dalam rantai distribusi. Kondisi harga daging sapi yang tinggi di pasar domestik dan ketergantungan pada impor menjadi bukti bahwa menjaga efisiensi menjadi krusial.
Sebagai gambaran, harga daging sapi kualitas 1 di Jakarta pada awal Juli 2026 tercatat sebagai yang tertinggi secara nasional. Ketergantungan Indonesia pada Australia sebagai pemasok utama sapi hidup dan daging sapi juga membuat fluktuasi nilai tukar, biaya logistik, dan dinamika perdagangan internasional berpotensi memengaruhi struktur biaya industri pangan nasional.
Direktur Utama PT Platinum Wahab Nusantara Tbk (TGUK), Agus Suhada, menegaskan pentingnya membangun rantai pasok yang efisien, khususnya dalam pengembangan bisnis frozen meat dan frozen processing food. “Kami melihat tantangan industri saat ini tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan bahan baku, tetapi juga bagaimana memastikan produk dapat didistribusikan secara efisien dengan kualitas yang tetap terjaga hingga ke tangan konsumen. Karena itu, penguatan rantai pasok menjadi salah satu fokus utama dalam pengembangan bisnis frozen meat Perseroan,” ujar Agus.
Agus menambahkan bahwa keberhasilan bisnis produk beku tidak hanya ditentukan oleh kualitas bahan baku, tetapi juga kemampuan menjaga kualitas produk sejak proses pengadaan, penyimpanan, hingga distribusi kepada pelanggan. Efisiensi di setiap tahapan dinilai penting untuk menjaga mutu produk, menekan potensi food loss, sekaligus meningkatkan daya saing perusahaan.
Strategi ini diwujudkan melalui pengembangan lini usaha frozen meat sebagai salah satu motor pertumbuhan baru Perseroan. Dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 14 Juli 2026, TGUK menjelaskan bahwa peningkatan penjualan atau omzet pada kuartal I-2026 didorong oleh mulai beroperasinya lini bisnis perdagangan daging beku. Momentum Ramadan dan Idulfitri turut mendorong permintaan produk tersebut.
Perseroan juga telah memperluas jaringan pemasaran melalui agen dan distributor. Selain itu, kegiatan operasional didukung fasilitas cold storage berkapasitas hingga 1.000 ton untuk memperkuat pengelolaan rantai pasok.
Dalam laporan keuangan kuartal I-2026, TGUK mencatat penjualan (omzet) sebesar Rp 200,74 miliar. Angka ini melonjak drastis dari Rp 726,43 juta pada periode yang sama tahun 2025, menunjukkan pertumbuhan lebih dari 270 kali lipat.
Sebagai bagian dari strategi jangka panjang, Perseroan tengah mempersiapkan rencana untuk memulai kegiatan impor daging pada tahun 2027. Langkah ini ditujukan untuk memperkuat kesinambungan pasokan bahan baku sekaligus meningkatkan efisiensi biaya pengadaan.
“Kami meyakini keberhasilan bisnis frozen meat tidak hanya ditentukan oleh kapasitas penjualan, tetapi juga oleh kemampuan membangun rantai pasok yang efisien dan berkelanjutan. Karena itu, kami mempersiapkan rencana impor daging pada 2027 sebagai bagian dari strategi memperkuat pasokan bahan baku, meningkatkan efisiensi biaya pengadaan, serta mendukung pertumbuhan bisnis Perseroan dalam jangka panjang,” tambah Agus.
Ke depannya, TGUK akan memfokuskan pengembangan bisnis pada optimalisasi distribusi, penguatan rantai pasok, peningkatan efisiensi operasional, serta peningkatan profitabilitas. Perseroan meyakini langkah tersebut akan memperkuat fondasi bisnis frozen meat dan frozen processing food sekaligus meningkatkan daya saing perusahaan di tengah dinamika industri pangan nasional.
Ikuti Jurnal Indonesia
