Jurnal Indonesia — Penguatan yen Jepang ke level tertinggi sejak Februari telah memberikan sinyal penting bagi para investor emas. Head of Research Pluang, Jason Gozali, menilai bahwa pergerakan yen yang lebih kuat berpotensi menekan dolar Amerika Serikat (AS). Kondisi ini secara historis cenderung menopang harga emas karena logam mulia tersebut diperdagangkan dalam denominasi dolar AS di pasar global.
“Momentum yen kali ini lebih signifikan dibanding reli yang semata-mata dipicu intervensi. Pasalnya, penguatan tersebut dinilai berlangsung lebih organik, seiring meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Bank of Japan (BoJ),” kata Jason di Jakarta, Selasa (8/9/2026).
Menurut Jason, pelemahan dolar AS yang menyertai penguatan yen dapat menjadi penopang bagi harga emas. Dampaknya dinilai dapat lebih besar terhadap GDX, sebuah Exchange Traded Fund (ETF) yang berisi saham perusahaan tambang emas. Hal ini karena sektor pertambangan memiliki leverage operasional yang membuat kenaikan harga emas berdampak jauh lebih besar ke margin dibanding ke biaya produksi.
Ia mencatat bahwa margin per ons produksi tambang emas telah melonjak 136% secara tahunan ke rekor US$ 3.076. Kondisi tersebut memperkuat sensitivitas kinerja saham tambang terhadap perubahan harga emas.
Sebelumnya, Bloomberg melaporkan bahwa yen pada Senin (7/9/2026) menguat hingga 1,4% ke 154,06 per dolar AS, level terkuat sejak Februari. Mata uang Jepang itu bahkan melampaui puncak yang tercapai setelah intervensi terkoordinasi Jepang dan Amerika Serikat, setelah pada pekan sebelumnya sempat melemah ke 160,39 per dolar AS.
Pergerakan tersebut didorong oleh meningkatnya spekulasi kenaikan suku bunga BoJ. Level 155 per dolar AS juga menjadi perhatian pasar karena sebelumnya menjadi batas penting setelah sejumlah episode intervensi valuta asing.
Sementara itu, ketidakpastian arah kebijakan Amerika Serikat (AS) kembali menjadi katalis penting bagi pasar global. Tarik-menarik antara kebijakan moneter yang berpotensi mendorong imbal hasil jangka pendek dan kebijakan fiskal yang berupaya menekan biaya pinjaman jangka panjang dinilai memperkuat alasan diversifikasi dari aset berbasis dolar AS ke emas dan bitcoin (BTC).
Menurut Jason, dua agenda pada pekan ini akan menjadi perhatian utama pasar obligasi AS, yakni detail buyback Departemen Keuangan AS dan rilis inflasi konsumen Agustus. “Kedua faktor tersebut berpotensi menentukan arah imbal hasil obligasi, sekaligus ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve (Fed),” tutur Jason.
Pluang tetap mempertahankan proyeksi positif terhadap emas dan bitcoin (BTC) untuk horizon 12 bulan. “Kami mempertahankan target harga emas US$ 5.200 dan Bitcoin US$ 100.000 dalam 12 bulan,” pungkas Jason.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.