Jurnal Indonesia — JAKARTA – Nilai tukar rupiah diproyeksi kembali menguat terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis, 10 September 2026. Penguatan ini melanjutkan tren positif yang terjadi sebelumnya.
Berdasarkan pantauan data Bloomberg pada Rabu (9/9/2026) sore, rupiah ditutup menguat 121 poin atau 0,69% ke level Rp 17.511 per dolar AS. Penguatan ini didukung oleh respons positif pasar terhadap rilis Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Agustus 2026 yang mencatat kenaikan.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan penguatan rupiah akan berlanjut. “Kemungkinan besar dalam perdagangan besok rupiah masih akan menguat. Ada kemungkinan penguatannya 50 poin ke Rp 17.480 per dolar AS,” ungkap Ibrahim dalam keterangannya, Rabu (9/9/2026).
Ibrahim menjelaskan bahwa tren penguatan rupiah didorong oleh sentimen positif dari data domestik. Bank Indonesia (BI) melaporkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) naik menjadi 118,5 pada Agustus 2026, lebih tinggi dari 116,8 pada Juli 2026. Angka IKK yang di atas 100 ini menunjukkan zona optimis.
“Survei Konsumen Bank Indonesia pada Agustus 2026 mengindikasikan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi meningkat dibandingkan dengan Juli 2026,” ujar Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, dalam keterangan resmi pada Rabu (9/9/2026).
Selain itu, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) juga mengalami peningkatan menjadi 109,4 pada Agustus 2026, naik dari 107,9 pada bulan sebelumnya. Peningkatan data internal ini membuat pasar optimis terhadap potensi masuknya arus modal asing ke dalam negeri.
Namun, pasar juga tetap mengamati perkembangan geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur sebagai faktor eksternal yang dapat memengaruhi pergerakan mata uang. Situasi di Laut Merah kembali memanas akibat serangan kelompok militan Houthi terhadap lima pangkalan di Arab Saudi. Ketegangan di Eropa Timur juga masih tinggi dengan berlanjutnya serangan militer Rusia ke Ukraina.
Meskipun ada gejolak geopolitik, Ibrahim mencatat bahwa harga minyak mentah yang sudah di atas US$100 per barel, terutama untuk brent crude oil, tidak melemahkan mata uang rupiah.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.